Sinopsis Novel Ladang Perminus

yogananta damar | 6/02/2015 | 0 comments

Ladang Perminus

Pengarang  : Ramadhan KH
Penerbit      : Pustaka Jaya Grafiti
Tahun          : 1990

Perminus merupakan singkatan dari Perusahaan Minyak Nusantara. Salah satu karyawan Perminus ialah Hidayat, umurnya kurang lebih empat puluh lima tahun. Ia selalu sibuk melayani tamu-tamunya bahkan tak sedikit tamu-tamu asing yang bekerja di Indonesia memanfaatkan analisisnya dalam menilai situasi. Banyak yang merasa puas atas arahan Hidayat.
Perminus sering menjadi sorota masyarakat terutama karena tindak korupsi besar-besaran di perusahaan itu. Media masa menyuguhkan berita yang menyudutkan. Akibatnya para karyawan resah dan saling curiga. Mereka khawatir dipecat dari perusahaan itu karena tim keamanan pimpinan seorang kolonel sedang giat-giatnya mencari siapa yang menjadi narasumber berita bagi koran-koran.
Salah satu karyawan yang ditendang adalah Hidayat. Ia begitu terkejut ketika dirinya dibebastugaskan dari urusan kantor. Tapi untung ia memiliki isitri yang baik sehingga tidak begitu frustasi. Untuk mengisi waktu senggang karena dibebastugaskan, Hidayat memilih mengurus peternakan ayam yang pernah ditinggalkannya. Selain itu, sekali-kali ia masih bekerja dengan memberikan nasihat kepada kontraktor yang membutuhkan pengetahuannya.
Hidayat akhirnya bekerja kembali. Tugas pertamanya ialah mengadakan perundingan dengan kontraktor dan pihak kedutaan Singapura. Dalam perjalanan tugas ia sempat berkenalan dengan seorang pramugari Garuda yang bernama Ita. Pada pertemuan itu pula,Ita jatuh cinta Hidayat. Sebagai lelaki yang telah memiliki istri, Hidayat tidak tergoda. Ia justru merasa kasihan pada Ita.
Penyidikan masih berlangsung, namun hal itu tidak membuat kegiatan kantor berhenti. Hidayat ditunjuk oleh Kahar yang merupakan tangan kanan direktur, untuk menghadapi orang-orang dari wakil perusahaan patungan Belgia, Jerman, dan Belanda. Tugasnya adalah menurunkan penawaran yang diajukan perusahaan asing itu.
Sesuai dugaan, Hidayat berhasil menurunkan penawaran perusahaan asing itu. Hal itu merupakan sebuah prestasi bagi Hidayat. Namun, pada kenyataanya angka penawaran yang telah ia turunkan justru dinaikan kembali. Ia merasa berang, sedih, karena usahanya disia-siakan. Oleh karena itulah, ia menghadap Kahar dan memprotes tindakan permainan angka itu.
Kahar yang merasa terancam berpikir untuk memecat Hidayat. Apalagi ketika itu, potretnya sedang terpampang di koran sebagai salah satu kandidat Gubernur Jawa Barat. Ia segera memanggil Kolonel Sukojo dan ia menceritakan, bahwa Hidayat tellah main politik dengan mencalonkan diri untuk diangkat menjadi Gubernur Jawa Barat tanpa seizinnya. Dengan tuduhan itu, ia meminta Hidayat dipensiunkan dini.
Hari-hari tenang dilalui Hidayat setelah berita kematian Kahar. Sebagai orang yang bekerja di bawah Kahar, ia memang mengetahui kecurangan-kecurangan dan penyelewengan yang dilakukan atasannya itu. Ia merasa lega karena Perminus telah kehilangan seorang pimpinan yang tidak jujur. Meskipun begitu, ia juga merasa kecewa, karena pria seperti Kahar dimakamkan di makam pahlawan.

Meskipun hatinya tidak iklah tentang Kahar yang dimakamkan di makam pahlawan, Ia juga sadar bahwa zaman telah berubah. Ia juga lega bahwa tindakan korupsi di Perminus berhasil di usut. Ia semakin lega ketika Ita, pramugari yang sempat hendak menyerahkan keperawanannya kepada Hidayat menjenguknya bersama sang suami. Hidayat bersyukur kala itu menolak Ita sehingga Ita dapat menikah dengan keadaan masih suci. Ia yakin bahwa hidup tegar dengan keyakinan pada kejujuran hari nuraninya merupakan senjata ampuh untuk menghadapi zaman ini.

Category:

rumpunsastra.com:
Rumpunsastra.com menyediakan informasi terkait dengan Bahasa dan Sastra Indonesia

0 comments