Pantun Syiar

rumpunsastra.com | 3/20/2018 | 0 comments

Syiar mengandung makna kemuliaan, dan kebesaran. Sesuatu akan menjadi 'syiar' ketika memiliki keluhuran. Madah doa dilantunkannya dalam buah karya, berikut adalah sebuah persembahan Puisi karya Muhammad Lutfi:

Pantun Syiar
Karya : Muhammad Lutfi

Kasih nur hendak dibawa pergi
Resah rinduku tenggelam senja
Teruslah hidup beramal bakti
Mencapai nikmat penghuni surga

Cendawan mega merbabu debu
Awan beracun mengarak kawah
Berbaktilah kepada ibumu
Supaya hidup menjadi berkah

Tiada jalan kau ke tepian
Berkelilinglah ke kota kenangan
Apa guna wajah muda tampan
Bila tiada hidup beriman

Berlayar guru ke Amerika
Sang murid beriak air mata
Teruslah engkau rajin membaca
Supaya jadi orang berguna

 Sampan dikayuh ke danau sepi
Bertemu gadis sangat menawan
Ayo kawan marilah mengaji
Supaya hidup punya tuntunan

Ikan mas berenangnya menjauh
Dikejar kail bagai senapan
Bersabarlah seperti Nabi Nuh
Supaya kau dapat kemenangan

Gelas kaca baru penuh madu
Tumpah di atas tumpukan roti
Orang tua berharap ingin bertemu
Datanglah sang anak dengan amal bakti

Badai pesisir menghantam kapal
Pecah semua menjadi batu
Asahlah tauhid dengan tebal
Agar menggapai puncak iman-mu

Hati kita senang kala pagi
Saat mulai petang datang duka
Janganlah dirimu sakit hati
Maafkanlah dengan lapang dada

 Pergi ke tambang timah
Sambil kerja menghapal surah
Orang iman beristiqomah
Hatinya sabar dan selalu qana’ah

 Suara burung menjemput surga
Di taman impian bersama kekasih
Aduhai wahai bahagia
Sang manusia bersifat asih

Turun gunung loncat batu
Menjual batu ke negeri sendiri
Sang guru tempatnya ilmu
Sang murid selalu menjaga diri

 Ilmu dunia dipelajari
Ilmu akhirat dibawa mati
Carilah jati diri
Agar bertemu nur ilahi

Sampan sepuluh di buat raja
Dermaga kapal di buat baru
Jangan sibuk mengurus dunia
Amal akhirat harus diburu

Kuat tubuh tetap sehat
Kuat iman tetap selamat
Sepanjang hidup membaca salawat
Di akhir hidup mendapat syafaat

Buah mangga berjatuhan
Buah padi dipanen petani
Hidup insan pencari Tuhan
Tak disangka di lubuk hati

Sebuah kisah zaman dahulu
Berkisah nabi dan kekasih utusan Tuhan
Berpikir jangan sekeras batu
Bertawakkal gapai keikhlasan

Bunga Mawar tumbuh berduri
Bunga Melati harum mewangi
Pejuang sejati berani mati
Tekad sejati dibawa mati

 Tanah makmur
Bergunung emas berharta karun
Negara makmur
Bila semua hidup rukun

Suara gendang bertalu-talu
Suara sang pangliman memimpin serdadu
Hargai sholat hargai waktu
Sadar diri akan waktu

Suara panah busur bergema
Pemuda sakti pemuda pilihan
Untuk dunia cukup sederhana
Untuk akhirat amal berlebihan

Naik ke bukit melihat awan
Di ujung mata terhampar samudera
Janganlah suka menuruti keinginan
Sebab bisa membawa sengsara

Pendekar sakti bersenjata belati
Membela Negara supaya aman
Hati-hati membawa diri
Jangan suka ikut-ikutan

Gunung merbabu
Gunung semeru
Jangan sembarang mencari ilmu
Tanpa tuntunan dari seorang guru

Anak lelaki itulah saya
Punya saudara dua perempuan
Kalau engkau berputus asa
Jadikanlah doa sebagai pegangan

Dekat rumah ada kali
Berlayar sampan menuju tepi
Hidup di dunia hanya sekali
Jangan sampai menanggung rugi

Malam hari makan nasi ketan
Sambil duduk memandang bulan
Tiada guna perkelahian
Yang ada hanya rasa tidak aman

Mencari diri menyusuri hari
Mencari harta dengan bekerja
Jangan memendam rasa iri
Kepada teman maupun saudara

Sepasang kekasih mencari kerja
Di rumah sang anak seorang diri
Kalau ingin hidup bahagia
Hilangkanlah nafsu dalam diri

Dalam gelap hanya sempit
Dalam terang hanya harapan
Kalau tubuh merasa sakit
Cepat-cepat mencari pengobatan


Pagar rumah terbuat dari baja
Pagar hati terbuat dari iman
Apa guna mempunyai kedudukan
Kalau diiringi keserakahan dan kesombongan

Mencari mutiara di dasar samudera
Dihantam badai dan ombak laut
Kebenaran harus selalu dibela
Kebenaran dibawa sampai maut merenggut

Bunga hati ialah kekasih
Bunga benalu ialah sekutu
Tiada guna ilmu pengasih
Sebab kalau jodoh itu ditakdirkan Allah untukmu

Jangan berjalan memandang bintang
Lebih baik pelan melihat jalan
Kalau selalu merasa kurang
Maka dirimu masih dipenuhi oleh cercah kekotoran

Apa guna menuju puncak
Tiada guna berlarian
Kalau masalah datang semakin memuncak
Mintalah nasihat kepada kawan-kawan

Masjid emas berkubah megah
Rumah janda berdinding bambu
Ujian dari Tuhan memanglah susah
Kesabaran jiwa itulah kualitas dirimu

Buah Pepaya di curi orang
Sang juragan marah-marah
Kalau hidup dililit hutang
Bekerjalah dan lunasilah

Hari lebaran membawa berkah
Sama-sama makan ketupat dan lontong
Harta berkah menjadi sedekah
Amal soleh menjadi penolong

 Pagi-pagi ke luar rumah
Pergi ke sawah mencari keong
Apalah gunanya rajin beribadah
Kalau dada masih diliputi rasa sombong 

Bunga rampai merayau-rayu
Angin senja berduyun-duyun
Hidup miskin sedih selalu
Resah dan hutang berduyun-duyun

Kapal nelayan pulau Panjang
Berlayar kapal ke tepian pulau
Orang marah jangan ditantang
Sebab kepala dan hati sekeras batu

Badai bertiup kea tap rumah
Rumah roboh di pinggir batu kali
Doa ibu memiliki karomah
Untuk anak-anak yang selalu berbakti

Pergi belanja membeli barang
Uang habis tinggal seribu
Jangan selalu menipu orang
Sebab orang tak akan percaya padamu

Jaka Tarub beristri bidadari
Cantiknya bagai rembulan temaram
Jangan selalu merasa iri hati
Sebab hidupmu tidak akan merasa tentram

Category:

rumpunsastra.com:
Rumpunsastra.com menyediakan informasi terkait dengan Bahasa dan Sastra Indonesia

0 comments