Teks Narasi

yogananta damar | 10/02/2014 | 0 comments

Pengertian Teks Narasi

Teks naratif ialah semua teks yang tidak bersifat dialog dan isinya merupakan suatu kisah sejarah, sebuah deretan peristiwa. Bersamaan dengan kisah dan deretan peristiwa itu hadir sebuah cerita (Luxemburg, 1984). Sastra jenis naratif biasanya terdapat dalam teks roman, novel, prosa, lirik, dan cerita pendek (cerpen).
Narasi disebut pula cerita. Narasi dapat berisikan fakta, fiksi atau rekaan atau yang dikhayalkan oleh pengarannya. Yang berisikan fakta biasa disebut biografi/otobiografi, sedangkan yang berupa fiksi ialah novel, cerpen, cerbung, dan sebagainya.

Unsur-Unsur Pembangun Teks Narasi

1. Tokoh

Di dalam teks naratif, tokoh adalah para pelaku yang terdapat dalam sebuah fiksi. Tokoh dalam teks naratif merupakan ciptaan pengarang, meskipun dapat juga merupakan gambaran dari orang-orang yang hidup di alam nyata. Oleh karena itu, dalam sebuah fiksi tokoh hhendaknya dihadirkan secara  alamiah. Dalam arti tokoh tersebut memiliki "kehidupan" atau berciri "hidup", atau memiliki derajat. Sama seperti manusia di alam nyata, yang bersifat tiga dimensi, maka tokoh dalam fiksi pun hendaknya memiliki dimensi fisiologis, sosiologis, dan psikologis meliputi usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, ciri-ciri muka, dsb.
Tokoh dalam teks naratif biasanya dibedakan menjadi beberapa jenis. Sesuai dengan keterlibatannya dalam cerita dibedakan antara tokoh utama (sentral) dan tokoh tambahan periferal). Tokoh disebut tokoh sentral apabila memenuhi tiga syarat, yaitu: a) paling terlibat dengan tema b) paling banyak berhubungan dengan tokoh lain c) paling banyak memerlukan waktu penceritaan 
 Menurut wataknya, tokoh dikenal dengan tokoh sederhana dan kompleks. Tokoh sederhana ialah tokoh yang kurang mewakili keutuhan personalitas manusia dan hanya ditonjolkan satu sisi karakternya saja. Sementara tokoh kompleks, lebih menggambarkan keutuhan personalitas manusia, yang memiliki sisi baik dan buruk secara dinamis (Sayuti, 2000). 

2. Alur/ Plot

Dalam teks naratif, alur atau plot adalah rangkaian peristiwa yang disusun berdasarkan hubungan kausalitas. Secara garis besar alur dibagi dalam tiga bagian, yaitu awal, tengah, dan akhir (Sayuti, 2000). Secara sederhana, lihatlah gambar alur/plot dibawah ini:
Piramida Alur
Bagian awal berisi eksposisi yang mengandung instabilitas dan konfliks. Bagian tengah mengandung klimaks yang merupakan puncak dari konfliks. Bagian akhir mengandung denoument atau penyelesaian masalah.
Plot dapat dibedakan menjadi beberapa jenis. Sesuai dengan penyusunan peristiwa atau bagian bagiannya, dikenal plot kronologis atau disebut juga plot progresif, dan plot regresif atau disebut juga flash back. Dilihat dari akhir cerita dikenal dua jenis plot yaitu terbuka dan tertutup. Disebut plot tertutup apabila sebuah cerita memiliki akhir atau penyelesaian yang jelas. Dan sebaliknya.
Dilihat dari kuantitasnya maka plot dapat dibedakan menjadi plot tunggal dan plot jamak. Plot disebut tunggal ketika rangkaian peristiwa hanya mengandung satu pokok peristiwa/primer, sementara alur dianggap jamak ketika memiliki berbagai peristiwa primer dan peritiwa lain.
Dari kualitasnya, dikenal plot rapat dan plot longgar. Disebut plot rapat apabila plot utama cerita tidak memiliki celah yang memungkinkan untuk disisipi plot lain. Sebaliknya sebuah plot disebut longgar apabila memungkinkan adanya penyisipan plot lain (Sayuti, 2000).

3. Latar (setting)

Dalam teks naratif, latar berfungsi untuk memberi konteks cerita. Latar dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Latar tempat berkaitan dengan masalah geografi (lokasi, kota, desa, dsb). Latar waktu berhubungan dengan masalah waktu (hari, jam, tanggak, dsb). Latar sosial berkaitan dengan kehidupan suatu masyarakat (Sayuti, 2000). 

4. Judul

Judul adalah hal pertama yang paling mudah dikenal oleh pembaca karena sampai saat ini, semua karya tidak ada yang tidak memiliki judul. Judul seringkali mengacu pada tokoh, latar, tema, maupun kombinasi dari beberapa unsur tersebut.

5. Sudut Pandang (point of view)

Sudut pandang atau point of view dibedakan menjadi:
  1. sudut pandang first person central atau akuan sertaan;
  2. sudut pandang first person peripheral atau akuan taksertaan;
  3. sudut pandang third person omniscient atu diaan mahatahu;
  4. sudut pandang third person limited atau diaan terbatas

6. Gaya dan Nada

Gaya (gaya bahasa) adalah cara pengungkapan yang khas bagi seorang pengarang. Gaya meliputi penggunaan diksi (pilihan kata), imajeri (citraan), dan sintaksis (pilihan pola kalimat).
Nada berhubungan dengan pilihan gaya untuk mengekspresikan suatu sikap.

7. Tema

Tema merupakan makna cerita. Tema pada dasarnya merupakan sejenis komentar terhadap subjek atau pokok masalah. Tema mengandung sikap pengarang terhadap subjek atau pokok cerita. Tema memiliki fungsi untuk menyatukan unsur-unsur lainnya.
Tema dapat dibedakan menjadi: tema jasmaniah: temayang berkaitan dengan keadaan jiwa seseorang manusia. Tema organik (moral) yang berhubungan dengan moral manusia. Tema sosial: tema yang berhubungan dengan masalah sosial (politik, pendidikan, propaganda, ddsb). Tema egoik, berhubungan dengan reaksi-reaksi pribadi pada umumnya yang menentang pengaruh sosial. Tema ketuhanan yang berhubungan dengan kondisi dan situasi manusia sebagai ciptaan Tuhan.






Category: ,

rumpunsastra.com:
Rumpunsastra.com menyediakan informasi terkait dengan Bahasa dan Sastra Indonesia

0 comments