Sejarah Sosiolinguistik

yogananta damar | 5/31/2015 | 0 comments

Sejarah Perkembangan Sosiolingustik di Amerika hingga di Indonesia

Dalam bab History of Sociolinguistics pada  Sosiolinguistics: The Essential Readings dikatakan bahwa sosiolinguistik sebagai sebuah disiplin ilmu mulai berkembang sejak 50 tahun terakhir. Sosiolinguistik mengkaji aspek sosial dalam bahasa dan hubungan antara bahasa dan masyarakat. Seharusnya sosioliguistik ada sejak manusia memiliki bahasa, sebab tidak ada masyarakat tanpa bahasa dan bahasa tanpa masyarakat (penuturnya). 

William Dwight Whitney (Shuy, 2003: 4) mengatakan bahwa bahasa dalam kaitannya dengan proses komunikasi bukanlah milik individu, melainkan milik sosial (anggota masyarakat). Tidak ada bahasa yang dapat bertahan jika hanya digunakan oleh seorang saja, sehingga dapat dikatakan bahwa ‘sesuatu’ dapat diterima sebagai bahasa jika telah diterima, dipahami, serta dipakai oleh anggota masyarakat.

Kata sosiolinguistik muncul pertama kali pada 1939 pada sebuah artikel karya Thomas C. Hudson yang berjudul Sociolinguistics in  India dalam Man in India. Sosiolinguistik juga pertama kali digunakan Eugene Nida pada buku edisi keduanya yang berjudul Morphology (1949), tetapi ada sesesorang yang sering menggunakan istilah sosiolinguistik yaitu Haver Currie (1952), yang meklaim bahwa dirinyalah yang memperkenalkan sosiolinguistik. Semua ahli sepakat bahwa tahun 1960-an adalah tahun yang penting bagi lahirnya sosiolinguistik, terlebih di Amerika. Pada awal 1960-an Joshua Fishman pertama kali mengajar sosiolinguistik (tetapi menggunakan istilah Sociology of Language) di Universitas Pennsylvania.

Ketika sosiolingustik menjadi populer sebagai sebuah disiplin ilmu pada akhir 1960, ada 2 label yang melekat di dalamnya, yaitu sosiolinguistik dan sosiologi bahasa yang sama-sama merujuk pada fenomena yang sama yaitu sebuah kajian hubungan dan interaksi antara bahasa dan masyarakat, dan kedua istilah tersebut dapat dipertukarkan penggunaannya. Pada akhirnya perbedaan antara keduanya pun jelas, yaitu sosiolinguistik berfokus pada deskripsi bahasa yang lebih luas (yang melakukan adalah linguis dan antropologis), sedangkan sosiologi bahasa berfokus pada penjelasan dan prediksi fenomena bahasa dalam masyarakat (yang melakukan biasanya sosiolog). 

dalam buku An Introduction to Sociolinguistics karya Ronald Wardhaugh. Wardhaugh (1986: 12) dikenalkan istilah sosiolingustik dengan mikro-sosiolinguistik dan sosiologi bahasa dengan makro-sosiolinguistik. Perbedaan di antara keduanya, yaitu sosiolinguistik menyelidiki hubungan anatara bahasa dengan masyarakat dengan tujuan adanya pemahaman yang lebih baik mengenai struktur bahasa dan bagaimana fungsi bahasa dalam komunikasi sedangkan sosiologi bahasa mencoba menunjukkan bagaimana struktur sosial dapat memberikan pengertian yang lebih baik melalui studi bahasa. 

Hudson via Wardhaugh (1986: 12) menyatakan perbedaan di antara keduanya, yaitu sosiolinguistik adalah studi tentang bahasa yang dikaitkan dengan masyarakat, sedangkan sosiologi bahasa adalah studi tentang masyarakat yang dikaitkan dengan bahasa.Apabila kita melihat pendapat Hudson, maka akan nampak perbedaan yang jelas antara keduanya. Sosiolinguistik menunjukkan bahasa yang lebih berpengaruh terhadap masyarakat, sedangkan sosiologi bahasa menunjukkan masyarakatlah yang lebih berperan terhadap bahasa.

Shuy (2003: 5) dalam artikel A Brief History of American Socioliguistics 1949-1989 menuliskan bahwa beberapa ahli bahasa berpendapat asal mula sosiolinguistik berasal dari kajian linguistik antropologi. Mereka mengatakan bahwa sosiolinguistik adalah bentuk modern dari linguistik antropologi. Pada awal April 1966, para sosiolog menggelar sebuah acara untuk membahas sosiolinguistik sebagai bagian dari acara tahunan Ohio Valley Sociological Society. Hymes melontarkan sebuah pertanyaan “Di mana para sosiolog dapat pergi untuk belajar sosiolinguistik?” Untuk menjawab hal tersebut, maka diadakanlah pertemuan lanjutan di Los Angeles tiga bulan kemudian di kediaman William Bright. Tokoh-tokoh yang hadir  pada waktu itu adalah Charles A. Ferguson, Joshua A. Fishman, Harold Garfinkel, Erving Goffman, John Gumperz, Dell Hymes, William Labov, Harvey Sacks, Edgar Polome, Leonard Savits, dan Emanuel Schegloff. Para sosiolog menyampaikan pengalaman mereka mengajar sosiolinguistik di universitas mereka. Savits menekankan bahwa para sosiolog membutuhkan pelatihan atau penjelasan mengenai linguistik. Karena sosiolinguistik adalah sebuah disiplin ilmu bahasa yang interdisipliner, maka sebagai seorang sosiolinguis mereka harus mengetahui kedua disiplin ilmu utamanya, yaitu sosiologi dan linguistik, agar  kajian yang mereka lakukan menjadi sebuah kajian yang utuh.

Pada November 1966, istilah sosiolinguistik telah menjadi istilah yang lazim di kalangan linguis dan sosiolog. Pertemuan tahunan Linguistic Society of America (LSA) telah memiliki sesi tersendiri yang diberi nama Sosiolinguistics yang telah berlangsung lebih dari 15 tahun. LSA telah mendeskripsikan sosiolinguistik sebagai sebuah komponen utama dalam disiplin ilmu linguistik. Dewasa ini sosiolinguistik mengandung beberapa topik di dalamnya, di antaranya perencanaan bahasa, studi mengenai bahasa dan jenis kelamin, variasi bahasa (dialek), register, pidgin, creol, dan lain-lain.
Indonesia menjadi sebuah ladang subur bagi kajian Sosiolinguistik. Menurut peta bahasa yang diterbitkan Lembaga Bahasa Nasional pada tahun 1992 (Nababan, 1986: 12) terdapat 418 bahasa daerah di Indonesia dengan jumlah penutur berkisar antara 100 orang (Irian Jaya) sampai dengan kurang lebih 50 juta orang (bahasa Jawa). Kebanyakan orang Indonesia akan mempelajari dan memakai bahasa daerah sebagai bahasa pertama, sedangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Orang tersebut dinamakan berdwibahasa. Selain itu, masyarakat Indonesia sangat multikultur, sehingga akan terdapat banyak klasifikasi sosial yang membuat kajian sosiolinguistik menjadi menarik.

Daftar Pustaka:
Hymes, Dell. 1997. “The Scope of Sociolinguistics” dalam Nikolas Coupland dan Adam Jaworski (Ed.) Sociolinguistics: A Reader and Coursebook. United States of America: Macmillan Press Ltd.

Nababan, P.W.J. 1986. Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia.

Sumarsono. 2013. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.





Category:

rumpunsastra.com:
Rumpunsastra.com menyediakan informasi terkait dengan Bahasa dan Sastra Indonesia

0 comments