Sinopsis Novel Dendang

yogananta damar | 6/02/2015 | 0 comments

Dendang
Pengarang  : Darman Moenir
Penerbit      : Balai Pustaka
Tahun          : 1990

Tokoh pemuda dalam novel ini memiliki keberanian dan tekat yang kuat. Buktinya, hanya dengan tekad ia mampu menyelesaikan sekolahnya dan menjadi sarjana muda. Bagi ayah pemuda itu, hidup jangan menunggu kaya terlebih dahulu. Meskipun ia seorang pemuda miskin, dengan kemahirannya menulis cerita pendek dan diterbitkan di koran daerah, ia bisa menghidupi dirinya. Melalui tulisannya itu pula, pemuda ini menjalin hubunga dengan gadis Han.
Meskipun Ibu Han tidak setuju dengan pernikahan anak gadis dengan pemuda itu, namun karena ayah Han yang bijaksana, pernikahan dapat dilaksanakan.
Kantor tempat pemuda itu bekerja menempatkannya pada bagian penataan wajah dan pembetulan. Alhasil ia sering dikenakan sift malam. Bagi pemuda itu, Ia senang di berikan pekerjaan pada sift malam daripada siang. Baginya siang adalah waktu luang yang akan digunakan untuk menambah ilmunya khususnya kesusastraan.
Sayang, seribu sayang, kantor tempat pemuda itu bekerja memiliki jaringan listrik yang buruk. Listrik kantor penerbitan itu sering mati. Karena sering mati pemuda itu tidak dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Akhirnya ia dipindahkan ke bagian iklan.
Pada bagian iklan ia berusaha memperbaiki kesalahannya. Ia berhasil meningkatkan penjualan Iklan. Meskipun ia kini dikenakan dinas siang, pemuda itu masih bisa melanjutkan sekolah karena masih ada waktu luang sepulang bekerja. Namun karena kesibukannya itu timbullah pertengkaran diantara suami istri itu.
Pertengkaran semakin meruncing karena sebuah postcard yang bergambar seorang wantia teman sekolah pemuda itu. Sekalipun pemuda itu menjelaskan kepada istrinya, Han tidak dapat memaafkan suaminya. Akhirnya pemuda itu memutuskan untuk mengirim surat untuk ayahnya di kampung. Surat itu isinya adalah pengaduan tentang maslaah keluargannya sekaligus rencana perceraiannya.

Ia mendapat nasihat dari beberapa temannya yang sesama seniman. Karena nasihat itu. Ia bertekad bahwa penting baginya untuk berusaha hidup dan menghidupi istri dan anaknya betapaun rintangannya, istri dan anak adalah tangung jawabnya. Karena itu ia tak boleh menyerah dalam menjalani hidup.

Category:

rumpunsastra.com:
Rumpunsastra.com menyediakan informasi terkait dengan Bahasa dan Sastra Indonesia

0 comments