Salah satu hal yang membuat kita gemar untuk tetap menulis adalah apabila tulisan kita dibaca oleh orang lain. Ada perasaan bangga bahwa kita telah mampu menuangkan pikiran kita melalui sebuah tulisan yang kemudian diterima oleh pembaca. Menulis dan publikasi tulisan memiliki pengaruh yang kuat terhadap keberlanjutan tulisan. Sama seperti sebuah sinetron yang jika pemirsanya semakin banyak, biasanya semakin banyak pula episodenya.
Pada era digital seperti sekarang, publikasi tulisan sangatlah mudah. Kenalkah kalian sosok Afi? Siswi SMA yang terkenal karena tulisan-tulisan di dinding facebooknya. Benar apabila pepatah mengatakan bahwa seseorang akan lebih dikenal melalui tulisannya.
Kali ini saya akan membahas mengenai salah satu aplikasi berbasis mobile Android untuk publikasi tulisan. Aplikasi ini bernama Wattpad. Apa kegunaan aplikasi Wattpad? Aplikasi ini berguna bagi kalian yang suka membaca buku -terutama yang gratisan. Eits, tapi jangan berharap yang muluk-muluk, karena yang namanya gratis pasti terdapat beberapa kekurangan. Melalui aplikasi Wattpad ini, selain kita dapat membaca buku secara gratis, kita juga dengan bebas bisa memasukan tulisan kita -dalam bentuk buku. Aplikasi Wattpad menyediakan fitur yang memudahkan kita memasukan halaman-halaman buku. Mulai dari sampul (ada juga aplikasi untuk membuat sampulnya), daftar isi otomatis, dan chapter atau bagian-bagian tulisan.
Menulis di aplikasi Wattpad ini tidak diharuskan harus langsung selesai. Kita bisa menyimpannya sebelum di publikasikan. Kita juga diberikan kemudahan dalam melanjutkan tulisan yang sudah dipublikasikan, ataupun mengeditnya kembali. Hal yang menyenangkan adalah fitur perpustakaan yang dapat membantu kita mengoleksi buku-buku favorit. Selain fitur perpustakaan ada juga fitur follow penulisnya, jadi kita selalu mendapat update terbaru dari tulisan pengarangnya.  Satu fitur yang menarik lagi adalah kita bisa mengomentari tulisan secara langsung pada bagian tulisan. Mirip seperti fitur koreksi.
Saya sendiri sudah mencobanya dan cukup puas dengan aplikasi ini. Aplikasi ini cocok untuk kalian yang suka menulis dengan android. Ayo semangat menulis! Oh iya baca juga tulisan kami dengan tagar #rerivere #lotushijau...like ya ^^..

Pengertian Apresiasi Sastra

Apresiasi dimengerti sebagai proses penghargaan akan sesuatu. Apresiasi sastra berarti sebuah proses menghargai karya-karya sastra. Dalam mengapresiasi sebuah sastra, pembaca perlu melibatkan aspek kognitif, aspek emotif dan aspek evaluatif.
Aspek kognitif berkaitan dengan kognisi pembaca untuk memahami unsur-unsur kesastraan.
Aspek emotif berkaitan dengan emosi pembaca ketika menghayati unsur-unsurkarya sastra.
Aspek evaluatif berkaitan dengan penilaian pembaca terhadap karya sastra. Penilaian berupa baik-buruk, indah-tidak indah, sesuai-tidak sesuai.


Pendekatan dalam Apresiasi Sastra

Penggunaan pendekatan dalam mengapresiasi karya sastra ditentukan oleh tujuan apresiasi, proses apresiasi, dan landasan teori yang digunakan.

Berdasarkan tujuan apresiasi, pendekatan yang dapat digunakan adalah: (1) pendekatan parafrastis, (2) pendekatan emotif, (3) pendekatan analitis, (4) pendekatan historis, (5) pendekatan sosiopsikologi, (6) pendekatan didaktis.

Berdasarkan proses apresiasi, pendekatan yang dapat digunakan antara lain: (7)pendekatan emotif, (8) pendekatan ekspresif, (9) pendekatan analitis, (10) pendekatan semantis, (11) pendekatan struktural.

Berdasarkan landasan teori yang digunakan, berikut ini teori-teori yang dapat digunakan untuk kegiatan apresiasi sastra: (12) teori fenomenologi, (13) hermeneutika, (14) formalisme, (15) strukturalisme, (16) semiotika, (17) teori resepsi, (18) teori psikoanalistis.

1. Pendekatan Parafrastis dalam Apresiasi Sastra

Apresiasi sastra dengan pendekatan parafrastis dilakukan dengan jalan mengungkapkan kembali gagasan yang disampaikan pengarang (dengan kalimat dan bahasa yang berbeda) guna memahami kandungan makna dalam karya sastra. Tujuan dari pendekatan parafrastis ialah menyederhanakan pemakaian kata atau kalimat pengarang, sehingga pembaca lebih mudah memahami kandungan makna yang tersimpan dalam suatu karya sastra.
Bahasa yang digunakan dalam karya sastra biasanya bersifat indah, mulia, namun juga memiliki konotasi yang tinggi. Kalimat dengan konotasi akan lebih sulit dipahami kandungan maknanya. Oleh sebab itu, pendekatan parafrastis menggunakan cara pengungkapan kembali dengan tujuan membuat kalimat tidak lagi berkonotatif-sehingga lebih mudah dipahami. 
Untuk lebih jelasnya, pendekatan parafrastis ini memiliki lima dasar prinsip penerapan:
a) gagasan yang sama dapat disampaikan lewat bentuk yang berbeda, b) simbol-sombol yang bersifat konotatif dalam suatu cipta sastra dapat diganti dengan lambang atau bentuk lain yang tidak mengandung ketaksaan makna, c) kalimat atau baris dalam karya sastra yang mengalami pelesapan dapat dikembalikan lagi ke bentuk dasarnya, d) perubahan suatu cipta satra baik dalam hal kata maupun kalimat yang semua simbolik dan eliptis menjadi bentuk kebahasaan yang tidak konotatif akan mempermudah upaya seseorang untuk memahami kandungan makna dalam suatu bacaan, e) pengunkapan kembali suatu gagasan yamg sama dengan menggunakan media dan bentuk yang tidak sama oleh seorang pembaca akan mempertajam pemahaman gagasan yang diperoleh pembaca (Aminuddin, 2010:41-42).

2. Pendekatan Emotif dalam Apresiasi Sastra

Pendekatan emotif adalah suatu pendekatan yang bertujuan menemukan unsur-unsur emosi atau perasaan dalam suatu karya sastra. Unsur emosi dapat berupa keindahan penyajian bentuk, keindahan isi, ataupun kemenarikan gagasan. Prinsip dasar pendekatan emotif dilatarbelakangi oleh pandangan bahwa sastra merupakan bagian dari karya seni. Oleh karena sastra adalah karya seni maka pasti bertujuan untuk dinikmati, menghibur, dan memberikan kesenangan pembacanya.
Pertanyaan yang dapat diajukan dalam menggunakan pendekatan ini adalah: 
Adakah unsur-unsur keindahan dalam cipta rasa yang akan saya baca ini? Bagaimana cara pengarang menampilkan keindahan itu? Bagaimana wujud keindahan itu sendiri setelah digambarkan pengarangnya? Bagaimana cara pembaca menemukan keindahan itu? Serta berapa banya keindahan itu dapat ditemukan? (Aminuddin, 2010:41-42)

3. Pendekatan Analistis dalam Apresiasi Sastra

Pendekatan analistis adalah suatu pendekatan yang berusaha memahami gagasan pengarang, cara menampilkan dan mengimajinasikan gagasanya, sikap pengarang dalam mengambil gagasannya, serta elemen intrinsik dan mekanisme dalam karya sastra.
Kegiatan apresiasi sastra dengan pendekatan analistis dapat dimulai dengan membaca teks secara keseluruhan - pembaca menampilkan pertanyaan yang berhubungan dengan unsur-unsur intrinsik yang membangun cipta sastra (bagaimana penokohanya? perwatakannya? setting? alurnya? dsb.) - langkah selanjutnya adalah memahami mekanisme hubungan antar unsur. Analisis tidak harus dilakukan terhadap semua unsur tapi dapat difokuskan kepada satu unsur misalnya diksi atau gaya bahasa sebuah karya sastra.

4. Pendekatan Histori dalam Apresiasi Sastra

Pendekatan historis menekankan pada pemahaman tentang biografi pengarang, latar belakang peristiwa/sejarah yang melatarbelakangi terwujudnya karya sastra tersebut. Pendekatan ini memandang bahwa sastra merupakan bagian dari zamannya. Pengetahuan mengenai biografi pengarang dibutuhkan untuk memahami sosio-budaya zaman pengarang.

5. Pendekatan Sosiopsikologis dalam Apresiasi Sastra

Pendekatan ini berusaha memahami latarbelakang kehidupan sosial-budaya, kehidupan masyarakat, dan sikap pengarang terhadap lingkungan pada zamannya. Pendekatan ini juga memandang bahwa karya sastra tidak dapatt dipahami secara lengkap jika dipisahkan dari lingkungan kebudayaan. Dalam prakteknya, pendekatan ini, sering tumpang tindih dengan pendekatan historis.

6. Pendekatan Didaktis dalam Apresiasi Sastra

Didaktis secara harafiah juga berarti mendidik. Oleh karenannya, pendekatan ini berusaha menemukan dan memahami gagasan, tanggapan evaluatif atau sikap pengarang terhadap kehidupan. Pada akhirnya, pembaca akan menemukan nasihat atau pandangan filosofis yang mampu memperkaya kehidupan pembaca. 

Dalam pelaksanaan apresiasi sastra, umumnya pembaca dapat menggunakan lebih dari satu pendekatan secara bersama-sama.

7.Pendekatan Emotif dalam Apresiasi Sastra

Pendekatan emotif merupakan pendekatan yang berusaha memahami dan menghayati unsur-unsur yang mampu memberikan ajukan emosi tersebut, pada dasarnya juga daya ekspresi pengerang dalam mengolah segala realita yang ada dalam kreasi penciptaan.

10. pendekatan semantis, 

Pendekatan ini lebih banyak fokus terhadap penerapan semantik (makna) dalam upaya untuk memahami makna dalam suatu teks sastra.

11. pendekatan struktural.

Menekankan pada aspek bentuk, struktur dan teksturnya.

12. Teori Fenomenologi, 

Aliran fenomenologi merupakan aliran yang banyak memusatkan perhatian pada aspek makna. Makna yang dimaksud adalah kesadaran dan pengenalan diri manusia yang kemudian diikuti renungan dan transendensi sehingga memperoleh dunia subjektif pengarang. Awalnya, teori ini dimanfaatkan untuk menafsirkan Injil. Prinsip pemahaman dengan teori ini melibatkan transendensi subjektif sebab keberadaan manusia selalu melekat terhadap ruang (dunia), dan waktu.

13. Hermeneutika

Teori ini mengacu kepada prinsip bahwa sebagian tidak dapat dipahami tanpa keseluruhan, dan keseluruhan tidak dapat dipahami tanpa sebagian. Artinya untuk memahami sebagian kejadian dalam karya sastra pembaca harus melihat keseluruhan kejadian baru memberikan penilaian. Kejadian-kejadian dalam karya sastra berkaitan satu sama lain.

14. Formalisme

Aliran ini merupakan kebalikan dari aliran fenomenologi.Aliran formalisme menekankan aspek bentuk, atau aspek kebahasaan sebuah karya sastra. Kebaruan, penyimpangan, atau keunikan bahasa dalam karya sastra menjadi perhatian.

17. Teori Resepsi

Teori resepsi memiliki anggapan bahwa sebuah karya sastra hadir di tengah masyarakat pembaca, pembaca sendirilah yang nantinya memberikan makna. Tentu saja makna yang timbul akan beragam. Karena itu terori resepsi sangat bergantung pada penilaian subjektif dan penilaian objektif pembaca terhadap karya sastra.

18. Teori Psikoanalistis.

Teori psikoanalistis menyangkut Id, Ego, dan Super Ego (Sigmund Freud). Dalam telaah sastra hal-hal itulah yang dimanfaatkan untuk memahami aspek kejiwan pengarang dalam kaitannya dengan proses kreatif karya sastra

Pengertian Pantun

Pantun sering dimengerti sebagai 'puisi lama'. Mengingat kembali sejarahnya, pantun dulunya merupakan permainan kata-kata. Dalam pembuatannya, pantun memiliki aturan-aturan yang harus ditaati oleh penulis. Aturan tersebut adalah jumlah baris, persajakan, sampiran serta isi. Aturan-aturan itulah yang menjadikan sebuah puisi adalah pantun. 
Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (empat baris), setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, bersajak akhir dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a. Semua  pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran merupakan dua baris pertama yang biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua. Bagian kedua adalah 2 baris berikutnya (setelah 2 baris pertama). Bagian kedualah yang menyampaikan isi dan tujuan dari pantun tersebut,
Hal yang menarik dari pantun adalah bahwa ia mempunyai keindahan ritme yang tidak dapat di "recreate" ke dalam bahasa lain. Artinya, untuk menikmati pantun secara utuh, seseorang harus memahami bahasa tersebut, sebab "recreate" akan menghilangkan satu keindahan pantun yaitu irama dalam sajaknya.

Jenis Pantun

Pantun anak
merupakan pantun yang berisi permainan, hal-hal menyenangkan maupun menyedihkan.
contoh pantun anak:

Kalau kepiting pergi ke rawa
Kalau ikan mandi di kali
Kalau monyet sedang tertawa
Mukanya lucu sekali

Monyet lincah panjat tali
Kera duduk baca koran
Bagaimana hati tidak geli
Kepala botak suka sisiran


Pantun Muda-mudi
pantun ini biasanya berisi perasaan kasmaran atau rasa jatuh cinta, pantun ini juga biasanya dipakai untuk menggoda seseorang.
contoh pantun muda-mudi:

Makan nasi selagi hangat
Belinya di seberang jalan
Aduhai adik manis sangat
Boleh abang minta kenalan

Ada turis dari Arab
Tidak lupa mampir ke Bali
Jangan kaget mereka akrab
Ada cinta bersemi kembali


Pantun Jenaka
pantun ini berisi bahan kelakar atau hal-hal yang lucu.
contoh pantun jenaka:

Merah-merah bunga mawar
Putih-kuning kupu mengepak
Susah-susah abang melamar
Karena keriting abang ditolak

Kalau haus minum milo
Kalau lapar makan ketan
Aduh nasib jadi jomblo
Pergi ke taman dikira setan (- kalau ada dua orang bermesraan biasanya yang ketiga?)


Pantun Nasihat
merupakan pantun yang berisi nasihat agar menjadi lebih baik.
contoh pantun nasihat:

Ada dewi namanya Athena
Ada Hades dari neraka
Ada orang jadi merana
Karena hati angkara murka

Ada orang pergi ke tabib
Minum obat sambil menari
Susah senang itu nasib
Jangan lupa disyukuri


Pantun teka-teki
 adalah pantun yang berisi pertanyaan yang meminta orang lain berpikir jawabannya.
contoh pantun teka-teki:

Melihat hewan mirip tupai
Melihat cewek kayak lelaki
Kalau kamu orang pandai
Binatang apa tanduk di kaki? jawab (ayam jago)

Naik motor pelan-pelan
Jangan sampai masuk selokan
Tanpa kaki bisa berjalan
Meski badan sambil tiduran - jawab (ular)

Membuat Pantun

Untuk membuat sebuah pantun, hal utama yang harus diperhatikan oleh pengarang adalah bagian isinya. Bagian isi merupakan pokok dari pantun. Artinya, menarik atau tidaknya sebuah pantun ditentukan oleh isi pantun. Setelah membuat isi maka pengarang bisa memikirkan sampiran yang akan digunakan. Dalam tahap ini pula pengarang memilih kata-kata yang sesuai dengan persajakan yang digunakan (a-a-a-a) atau (a-b-a-b).
nah, silahkan buat pantunmu sendiri!


Menulis Karangan Fiksi

Kalian tentu sudah tahu apa itu fiksi bukan? Kalau belum tahu silahkan baca di sini! Fiksi mempunyai sifat rekaan, oleh karenanya dalam menulis karya fiksi membutuhkan imajinasi pengarang. 
Sebelum menulis kita harus memahami bahwa fiksi memiliki beragam bentuk yang dibedakan berdasarkan panjang pendeknya cerita. Tiga bentuk fiksi berdasarkan panjang pendeknya cerita, antara lain: cerpen, novelet, novel. Cerpen memiliki panjang cerita 1000-1500 kata. Novelet memiliki panjang 15000-45000 kata. Novel memiliki panjang lebih dari 45000 kata. Apa jenis karangan yang hendak kalian tulis? Pemilihan bentuk karangan ini penting karena hal itu akan menentukan alur penulisan nantinya. Sebuah cerpen memiliki cerita yang pendek, karena itu biasanya cerpen hanya memiliki satu konflik utama. Hal itu berbeda dengan novel yang bisa terdiri dari banyak konflik.

Pahami unsur pembangun fiksi di sini! 

Sebuah karangan terdiri dari dua unsur utama yaitu ide dan cara penyajian. Jadi, langkah pertama untuk memulai menulis karangan fiksi adalah menemukan ide.

Bagaimana menemukan ide untuk karangan fiksi?

Sudahkah kalian menemukan ide? Kalau belum silahkan segera cari! Menemukan ide tidaklah sulit. Ide bisa didapatkan dari hal-hal yang kita alami sehari-hari. Coba simak potongan cerpen berikut ini:

Temanku, kuberitahu suatu rahasia kecil. Tentang letak sesuatu. Bahwa jantung di kiri dan hati di kanan. Meski kuyakin kau telah tahu. Aku masih teringat masa dulu, kala kuberikan kepadamu salam hangat dari tangan kanan, lalu kau peluk aku dengan erat.
“Kau sudah bangun?”
“Hm...” sambil mengangguk lalu mengangkat alis, aku berusaha membuat suaraku bersahaja dihadapanmu pagi ini.
Pagi ini terasa beda dan bercahaya. Selepas pandang mata ini penuh dengan cahaya kegembiraan. Buku-buku di lemari kaca terlihat putih berbinar-binar, bunga-bunga di vas juga nampak berkilauan. Mungkin mata ini masih syahdu pada mimpi. Kucelupkan tangan ini pada gelas di lemari kecil sebelah kananku - lalu aku mulai mengulas mataku.
“Ah akhirnya ...” dengan tersenyum aku berucap karena mulai kulihat pandang kembali seperti sediakala.
“Ada apa?” tanyanya keheranan.
“Hmm ini aneh.. Tadi aku melihat bunga berkilauan, dan buku-buku berbinar binar. Setelah kuulasi mataku dengan air semua sudah kembali normal.”
“Benar kau sudah bangun?”
“Ya... mungkin”
“Mungkin?”
“Aku masih melihatmu berbinar-binar pagi ini, apa aku sudah bangun?”  
Tulisan di atas merupakan potongan cerpen yang hendak saya buat (xixixi). Ya ... sebenarnya inspirasi tulisan di atas saya dapatkan sehabis bangun pagi. Apabila ada yang bertanya apa cerita yang hendak dibuat dari tulisan tersebut? Maka saya juga bingung sebab saya juga belum menemukannya. 
Akan tetapi tiba-tiba saya membaca sebuah berita yang menarik dari Kompas tentang seorang anak bernama Brryan Jackson yang disuntik HIV oleh Ayahnya. Sang Anak pada umur 11 bulan diinfuskan darah positif HIV oleh ayahnya. Hal itu membuatnya hampir mati "Selain darah yang diinfuskan tidak cocok, darah itu juga mengandung virus HIV." Beberapa kali dokter menyerah dengan komplikasi yang timbul, namun ia mampu hidup sehat hingga kini dan tetap bersemangat.
Inilah yang saya maksud menemukan ide. Dari ide sekecil apapun, kumpulkan dan tulis! Hingga akhirnya kita memiliki banyak ide tulisan. Siapa tahu kita menemukan berita seperti Brryan Jackson. Setelah membaca artikel Brryan Jackson saya mencoba mengkomposisikan potongan cerita tadi menjadi suatu cerita indah nan romantis. Kalian tentu tahu apa itu HIV dan apa stigma negatif yang didapatkan dari masyarakat? Keinginan Jackson adalah menjadi ayah yang baik sebab ia mempunyai ayah yang buruk. Tapi coba pikirkan bagaimana rintangan penderita HIV yang ingin memiliki seorang anak, 'siapa wanita yang mau?', mendekat saja takut. Akhirnya, saya ingin membuat sebuah cerita mengenai Jackson yang menemukan pasangannya. Inilah ide utama yang akhirnya saya dapatkan. Lho katanya 'mana ada wanita yang mau bersamanya?', kok malah mau menulis Jackson yang akhirnya mendapat pasangan? Ingat!
Dalam dunia fiksi, tidak ada yang tidak mungkin
Justru sesuatu yang melampaui logika namun masih dapat diterima (maksud saya jalan cerita yang tidak bisa ditebak) akan menarik menjadi tulisan fiksi. Lho katanya pasangan kok dalam cerita di atas disebutkan 'temanku'? Coba pikir lebih dalam, mungkin maksud saya adalah teman abadi.

Membuat mind maping karangan fiksi

Setelah kalian menemukan ide utama, sekarang kembangkanlah dengan metode mind mapping. Prinsip dari metode ini adalah merapikan dan mengaitkan ide-ide menjadi sebuah map atau peta karangan. Keuntungan menggunakan mind maping adalah untuk menghindari ide-ide kecil yang tertinggal. Contoh mind maping:

Menuangkan ide pada tulisan

Untuk menuangkan ide yang telah kalian miliki ke dalam sebuah tulisan, hendaknya pahami dulu tahapan-tahapan menulis. Tahapan-tahapan menulis adalah sebagai berikut: 1) pramenulis, 2) menulis draf, 3) merevisi, 4) menyunting, 5) publikasi.

Apabila kalian sudah selesai membuat mind maping secara lengkap, berarti kalian sudah melewati tahap pramenulis. 

Tahapan menulis draf berupa kegiatan menulis, namun bentuk tulisan biasanya masih kasar. Ide yang telah kalian buat menjadi sebuah kalimat atau tulisan sifatnya sementara, atau masih bisa diubah. Pada tahap ini, kalian tidak perlu mengkhawatirkan tipografi tulisan (EYD dan mekanik 'titik, koma, dsb.'). 

Merevisi merupakan kegiatan memperbaiki, menambahkan ide baru ke dalam karangan yang telah kita tulis. Untuk dapat melakukan revisi dengan baik, kita harus tekun dan teliti membaca kembali seluruh draf yang telah kita buat. Kalian juga boleh meminta bantuan teman untuk memberikan tanggapan terhadap tulisanmu.

Menyunting tulisan merupakan kegiatan memperbaiki aspek tata tulis atau kebahasaan serta kesalahan-kesalahan mekanik.

Publikasi: salah satu kebahagiaan penulis adalah apabila tulisannya dibaca orang lain, jadi publikasikan segera tulisanmu agar dapat bermanfaat bagi orang lain!








Ayo Menulis

Menulis merupakan sebuah kegiatan yang membutuhkan motivasi. Banyak orang merasa dirinya gagal sebagai penulis, mengapa? Seperti yang telah diungkapkan di awal, mungkin mereka kurang motivasi saja. Pernahkah kalian dengar kata-kata bijak yang mengatakan bahwa: 
Kamu belum gagal semasa belum menyerah. Kamu gagal ketika telah menyerah.

"Tidak menyerah", itulah kunci dalam keberhasilan menulis. Jangan hanya berkata dalam hati "saya tidak menyerah", namun tanpa tindakan apapun. Tidak menyerah menulis harus diikuti dengan terus berproses menulis dan bersabar. Untuk mempertahankan motivasi menulis, kalian tentu membutuhkan alasan yang kuat bukan? Bagi kalian yang memiliki jiwa sosial yang tinggi, ingatlah! 
Menulis akan membuat kita bermanfaat bagi orang lain

Menulis itu susah?

Menulis itu susah? Ah... apa iya? Banyak orang merasa (waduh pakai ilmu perasaan) dirinya susah menemukan ide, susah merangkai kata-kata, struktur tulisan sulit, dan sebagainya. Ya... ya...ya.... tidak apa-apa.  Masalah-masalah seperti diatas sudah biasa dihadapi penulis
Kunci untuk menyelesaikan permasalahannya sebenarnya sangat simple, yaitu "biasakan diri untuk menulis."
Lihatlah pemain sirkus yang melakukan atraksi menakjubkan seperti bersepeda di atas seutas tali, lihatlah atlet panahan yang mampu memanah dengan akurat, atau lihat saja perenang! Apakah kemampuan pemain sirkus tadi didapatkan secara langsung? Simsalabim kalau kata Alibaba. Apa iya orang langsung bisa bersepeda di atas seutas tali? Semua membutuhkan proses, latihan, dan ketekunan. Ada yang mengibaratkan menulis seperti memanah - artinya butuh konsentrasi. Ada juga yang mengibaratkan menulis itu seperti berenang - "kalian boleh tahu teori renang, tapi apa kalian bisa berenang tanpa menceburkan diri ke air" - intinya kita harus membiasakan diri menulis kalau ingin menulis. 

Bagaimana mengawali kebiasaan menulis?

Mengawali kegiatan menulis merupakan usaha yang mudah. Kalian bisa mulai dari menulis buku harian. Apabila kalian malas membeli buku, malas menulis dengan tangan, saran saya cobalah menulis via blog. Materi tulisan blog tidak harus rumit. Kalian bisa mulai dari bercerita diri kalian, makanan favorit, hoby, kegiatan sehari-hari.

Pembagian tulisan

Ada dua pembagian jenis tulisan yaitu, tulisan fiksi dan tulisan nonfiksi. Tulisan fiksi adalah tulisan dengan konten peristiwa yang tidak sungguh-sungguh terjadi. Berbeda dengan tulisan fiksi, tulisan nonfiksi memiliki konten berupa fakta yang sungguh-sungguh terjadi.
Pembagian tulisan secara garis besar dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Pembagian tulisan

Menggali Ide Tulisan

Untuk mendapatkan ide bisa beragam cara. Cara-cara yang dilakukanpun juga beraga, tergantung dari jenis tulisan apa yang hendak kalian buat. Salah satu kegiatan yang dapat kalian lakukakn untuk menggali ide adalah dengan membaca. Membaca memiliki hubungan yang erat dengan menulis.
Untuk bisa 'menulis' kita harus banyak 'membaca'
Dengan membaca, penulis dapat memperoleh informasi baru atau bahkan menggali lebih dalam dan menciptakan kreatifitas terhadap 'informasi yang telah kita miliki sebelumnya' (pengalaman ataupun realita kehidupan penulis). Lelah membaca tulisan ini? Silahkan baca cerita di bawah ini untuk menyegarkan pikiran:

Kisah Murid dan Master Zen
Seorang anak lelaki menangkap seekor burung kecil dan menyembunyikannya dibelakang punggunya. Dia lantas mendatangi gurunya dan bertanya, "guru, apakah burung yang ada di tanganku ini hidup atau mati?" Dia berpikir inilah kesempatan bagus untuk melakukan tipu daya terhadap gurunya. Bila sang guru menjawab 'mati', maka ia akan melepaskan burung itu ke udara. Sebaliknya, bila si guru menyahut 'hidup', maka ia tinggal mencekik leher burung tersebut. Sang guru menguncinya dengan berkata "Jawabannya ada ditanganmu."
Bagaimana sudah segar? Sudah pernah membaca cerita di atas? Atau sudah menemukan ide untuk menulis sesuatu

Copy From The Master

Cara ini bukan berarti saya menganjurkan anda untuk melakukan plagiat. Untuk memahami topik copy from the master ini, saya akan gunakan sebuah cerita lagi. Silahkan baca cerita di bawah ini:

Menjadi Master Lukis
Seorang anak lelaki datang kepada master Zetsu dari Jepang. Ia adalah pelukis terkenal. Sang anak bertanya "Bagaimana agar aku bisa cepat menjadi pelukis terkenal?" Sang master memberikan jawaban dengan bercerita. "Zaman dahulu ada pelukis terkenal. Ia adalah master Tetsuo. Ia memiliki banyak murid. Salah seorang siswanya ingin cepat terkenal, maka ia meniru polesan dan sapuan lukisan Tetsuo. Ia berniat menarik perhatian banyak orang. Maka suatu hari didepan pakar seni ia berkata "Aku adalah murid Tetsuo, pelukis kesohor itu. Bagaimana pendapat kalian mengenai karyaku?" Bukanya pujian yang didapat ia justru mendapat celaan. "Apa benar kamu murid Tetsuo? Bagaimana mungkin seorang Tetsuo menghasilkan seorang dengan keterampilan yang begitu rendah? Kamu tak lain hanyalah penjiplak, dan penjiplak yang jelek." Di akhir cerita, master Zetsu bertanya kepada muridnya, "Apakah yang kamu dapat dari cerita tersebut?" Sang murid menjawab, "Tidak ada jalan pintas menuju ketenaran." Dengan jawaban sang murid, master Zetsu tersenyum dan berkata, "Sekarang, tirulah lukisan master Zetsu ini sebaik baiknya!" Begitu selesai dengan lukisan itu, sang guru memberikan murid lukisan dari pelukis-pelukis kesohor lainnya." Begitulah seterusnya hingga sang murid mendapatkan bentuk lukisan yang khas sesuai dengan kepribadiannya.  
Sama halnya dengan melukis, menulis juga memerlukan kekhasan. Tulisan terdiri dari dua struktur yaitu ide atau gagasan dan teknik penyajian. Kekhasan dalam menyampaikan ide atau gagasan dengan teknik penyajian harus dimiliki penulis. 


Metode-Metode Pembelajaran dalam Pendekatan Kolaboratif

Postingan ini merupakan lanjutan dari post Pendekatan Kolaboratif. Sebelumnya, dalam Pendekatan Kolaboratif telah dibahas pula lima metode pembelajaran di antaranya 1) Teams Games Tournament (TGT), 2) Teams Assisted Individualization (TAI), 3) Student Team Achievement Division (STAD), 4) Numbered Head Together (NHT), 5) Jigsaw. Kali ini saya akan melanjutkan lima metode pembelajaran lainnya.

6. Think Pair Share (TPS)

Metode pembelajaran Think Pair Share menggunakan gagasan tentang waktu 'tunggu atau berpikir' di dalam elemen interaksi pembelajaran kooperatif. Metode pembelajaran TPS memiliki manfaat 1) memungkinkan siswa untuk bekerja sendiri maupun bekerja sama dengan teman; 2) mampu mengoptimalkan partisipasi siswa; 3) memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi dalam kelompok. 
Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Pembagian kelompok: siswa dibagi ke dalam kelompok yang beranggotakan 4 orang.

Pemberian tugas: guru memberikan tugas pada setiap kelompok.

Bekerja dalam kelompok: siswa mulai bekerja atau mengerjakan tugas dari guru secara mandiri dalam kelompok.

Membentuk pasangan: kelompok membentuk anggota-anggotanya secara berpasangan, lalu setiap pasangan berdiskusi atas pekerjaannya.

Diskusi dalam kelompok: setelah selesai diskusi berpasangan, dilanjutkan diskusi dalam kelompok masing-masing.

7. Two-Stay Two-Stray

Metode pembelajaran Two-Stay memiliki tujuan supaya siswa dapat bersosialisasi dengan baik: saling bekerja sama, bertanggung jawab, saling membantu memecahkan masalah, dan saling mendorong satu sama lain untuk berprestasi.
Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Pembagian kelompok: siswa dibagi ke dalam kelompok yang beranggotakan 4 orang. 

Pemberian subpokok bahasan: guru memberikan tugas pada setiap kelompok untuk dibahas bersama-sama dengan anggota kelompok.

Bekerja dalam kelompok: siswa mulai bekerja atau mengerjakan tugas dari guru secara bersama-sama dalam kelompok.

Diskusi antar kelompok: 2 anggota masing-masing kelompok pergi meninggalkan kelompoknya dan berdiskusi dengan kelompok lain sebagai 'tamu', sedangkan 2 anggota yang tinggal di dalam kelompok bertugas sebagai 'tuan rumah' untuk menyampaikan hasil kerja kelompoknya kepada kelompok 'tamu' yang datang.

Diskusi dalam kelompok: 'tamu' kembali ke kelompoknya sendiri untuk membahas dan mencocokan pekerjaannya.

Presentasi hasil kerja: masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja.

8. Role Playing

Metode pembelajaran Role Playing dikenal juga sebagai metode bermain peran. Metode pembelajaran ini mengkondisikan siswa dalam situasi tertentu di luar kelas (situasinya bukan KBM nya). Pembelajaran dengan metode ini membutuhkan imajinasi dan penghayatan siswa. Sebab, pembelajar harus membayangkan dirinya seolah-olah menjadi orang lain. 
Keunggulan metode Role Playing: 1) kesan yang ditimbulkan dalam pembelajaran kuat, 2) mendapa pengalaman belajar menyenangkan, 3) suasana kelas menjadi dinamis, 4) membangkitkan gairah siswa, 5) siswa dpaat langsung memerankan sesuatu yang dipelajari.

Kelemahan metode Role Playing: 1)waktu yang dibutuhkan sangat banyak, 2) membutuhkan latihan, 3) membutuhkan susasana yang kondusif, 4) persiapan harus benar-benar matang, 5) tidak semua mater dapat disajikan.
Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Persiapan skenario: guru menyiapkan skenario yang akan ditampilkan.

Pemilihan pemeran: guru memilih beberapa siswa untuk mempelajari skenario, harus dilakukan beberapa hari sebelum pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar. 

Membentuk kelompok: guru membentuk kelompok yang terdiri dari 5 orang.

Menjelaskan kompetensi yang akan dicapai: guru menjelaskan kompetensi sebelum pelajaran dimulai.
Pertunjukan: guru mempersilahkan permain yang telah ditunjuk sebelumnya untuk memulai pertunjukan. 

Pembagian lembar kerja: setelah mengamati pertunjukan. setiap siswa diberi lembar kerja untuk membahas/menilai penampilan.

Penyampaian hasil kelompok: setiap kelompok menyampaikan hasil pembahasan/ hasil penilaiannya.

Kesimpulan dan evaluasi dari guru: guru memberikan kesimpulan dan evaluasi.

9. Pair Check

Sesuai namanya, metode pembelajaran Pair Check menerapkan pembelaran dengan kelompok antar dua orang (pair). Metode ini menuntuk kemandirian dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan persoalan. 
Pengaturan pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini secara umum adalah sebagai berikut:
a. siswa bekerja berpasangan
b. pembagian peran partner dan pelatih
c. pelatih memberi soal, partner yang menjawab
d. bertukar posisi
e. menyimpulkan hasil pembelajaran
f. evaluasi
g. refleksi

10. Cooperative Script

Strategi cooperative script ini memiliki tujuan untuk membantu siswa dalam berpikir secara sistematis dan berkonsentrasi pada materi pelajaran. 
Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini secara umum adalah sebagai berikut:
Pembagian kelompok: guru membagi siswa ke dalam kelompok secara berpasangan.

Pemberian materi: guru memberikan materi untuk dibaca dan dibuat ringkasannya.

Membagi peran: guru dan siswa menetapkan siapa yang menjadi peran pembicara dan siapa yang menjadi peran pendengar.

Penyampaian ringkasan: Pembicara menyampaikan ringkasannya kepada pendengar. Pendengar menyimak dan menghubungkan bahasan dengan materi sebelumnya.

Bertukar peran: siswa yang semula sebagai pembicara bertukar menjadi pendengar, dan sebaliknya.

Membuat kesimpulan: guru dan siswa bersama-sama membuat kesimpulan dari materi yang sudah dipelajari.




Tujuan Pendekatan Kolaboratif

Postingan ini merupakan lanjutan dari post Pendekatan dan Metode Pembelajaran. Bagi sobat yang belum membacanya silah klik di sini.
Pada pendekatan kolaboratif, siswa didorong untuk mampu: a) menerima orang lain, membantu orang lain, menghadapi tantangan, dan bekerja dalam tim. Sama seperti pendekatan yang telah dibahas sebelumnya, pendekatan kolaboratif juga memiliki metode pembelajarannya sendiri. Metode pembelajaran kolaboratif antara lain: 1) Teams Games Tournament (TGT), 2) Teams Assisted Individualization (TAI), 3) Student Team Achievement Division (STAD), 4) Numbered Head Together (NHT), 5) Jigsaw, 6) Think Pair Share (TPS), 7) Two Stay Two Stray (TSTS), 8) Role Playing, 9) Pair Check, dan terakhir 10) Cooperative Script.

Macam-Macam Metode Pendekatan Kolaboratif

1. Teams Games Tournament (TGT)

Teams Games Tournament adalah metode pembelajaran kooperatif yang dikembangkan Slavin pada tahun 1995. TGT digunakan untuk membantu siswa dalam mereview dan menguasai materi pelajaran. Elemen yang dituju dengan penggunaan metode ini adalah peningkatan skill dasar, interaksi positif antar siswa, harga diri, serta penerimaan pada siswa lainya yang berbeda.
Metode pembelajaran Teams Games Tournament menempatkan satu kelompok yang terdiri dari orang-orang dengan 3 kemampuan yang berbeda (tinggi, sedang, rendah). Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Pembagian Kelompok: Pada tahap ini, guru mulai membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari maksimal 4 orang. Siswa dibagi ke dalam kelompok secara heterogen berdasarkan rangking akademik siswa. 

Turnamen: Sistem tournamen dapat diatur sedemikian rupa menggunakan media kartu soal maupun perangkat multimedia. Tiap kelompok akan mendapatkan pertanyaan . Kemudian siswa berusaha menjawab pertanyaan.

Scoring: Penentuan pemenang adalah dengan skor yang paling banyak.

2. Team Asisted Individualization (TAI)

TAI merupakan sebuah program pedagogik yang mengadaptasikan pembelajaran dengan perbedaan individual secara akademik. 
Metode Team Asisted Individualization bertujuan untuk meminimalisir pengajaran individual yang kurang efektif. Caranya adalah dengan membagi siswa kedalam kelompok-kelompok heterogen. Kriteria yang harus dipenuhi dalam pembelajaran ini adalah a) meminimalisir keterlibatan guru, b) melibatkan guru mengajar pada kelompok kecil yang heterogen, c) memotivasi siswa untuk mempelajari materi-materi dengan cepat dan akurat, d) siswa mampu bekerja dengan siswa lain yang berbeda kemampuan. Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Pembagian kelompok: siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan 4 atau 5 orang seperti pembagian dalam Metode TGT.

Tes Penempatan: siswa diberikan pre-test. Setiap siswa ditempatkan pada tingkatan yang sesuai dengan program individual berdasarkan hasil pre-test.

Mempelajari Materi: siswa mempelajari materi yang akan didiskusikan.

Belajar Kelompok: siswa melakukan belajar kelompok dalam satu tim.

Skoring dan Pengakuan: skoring diberikan di akhir pengajaran, tim yang terbaik memperoleh penghargaan dari guru.

Kelompok Pengajaran: guru memberikan pengajaran kepada setiap kelompok tentang materi yang sudah didiskusikan.

Tes Kemampuan: guru meminta siswa untuk mengerjakan tes untuk membuktikan kemampuan mereka.

3. Student Team Achievement Division (STAD)

Strategi ini merupakan salah satu strategi yang menerapkan kerjasama antar kelompok kecil dengan kemampuan akademik yang berbeda untuk menyelesaikan tujuan pembelajaran. 
Tahapan pembagian kelompok hampir sama dengan TGT dan TAI. Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Pembagian kelompok: siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan 4 atau 5 orang seperti pembagian dalam Metode TGT, dan TAI.

Pengajaran: guru menyajikan materi pelajaran, format pelajaran dapat berupa ceramah-diskusi.

Tim Studi: para anggotta kelompok bekerja secara kooperatif menyelesaikan lembar kerja dan lembar jawaban yang diberikan guru.

Tes: setiap siswa secaara individual menyelesaikan kuis. Setiap kusi diberi skor dan dicatat perolehan hasilnya. Hasil tes individu akan diakumulasikan untuk skor tim mereka.

Rekoknisi/Penghargaan: setiap tim memperoleh penghargaan bergantung pada skor tim.

4. Numbered-Head Together (NHT)

Metode pembelajaran Numbered Head Together pada dasarnya merupakan varian dari diskusi kelompok. Tujuan dari metode pembelajaran ini adalah memberi kesempatan kepada siswa untuk saling berbagi gagasan dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. 
Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Penomoran: masing-masing siswa dalam kelompok diberi nomor.

Tugas: guru memberikan tugas kepada masing-masing kelompok untuk dikerjakan.

Diskusi kelompok: setiap kelompok berdiskusi untuk menjawab pertanyaan. Setiap anggota kelompok harus dipastikan mengetahui jawaban tersebut.

Presentasi: guru secara acak memanggil nomor siswa. Siswa yang terpanggil nomornya maju dan mempresentasikan jawaban.

5. Jigsaw

Metode pembelajaran Jigsaw membutuhkan kemampuan guru untuk memahami kemampuan dan pengalaman siswa. Selain kemampuan dan pengalaman siswa, guru juga harus mampu memberi banyak kesempatan pada siwa untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini dapat dilihat pada gambar dibawah in:


Pembagian topik: awal pelajaran, guru membagi topik pelajaran kedalam sub-sub topik. Misal dalam pelajaran memahami unsur intrinsik drama, guru dapat membaginya menjadi enam bagian yaitu tema, plot/alur, tokoh, latar/seting, dialog, petunjuk lakuan.

Pengarahan dari guru: pengarahan dapat berupa brainstroming agar siswa lebih siap menghadapi bahan pelajaran baru.  

Pembagian kelompok: kelompok dibagi dengan anggota sesuai  jumlah subtopik.

Pembagian subtopik dalam kelompok: tiap siswa dalam satu kelompok memperoleh bagian subtopik yang berbeda dari anggota yang lainnya.

Bekerja pada subtopik: setelah pembagian sbutopik, tiap siswa belajar atau mengerjakan subtopiknya masing-masing.

Diskusi antar subtopik dalam kelompok: siswa berinteraksi dengan anggota lain dalam kelompok dan mendiskusikan subtopiknya masing-masing.

Diskusi topik antar kelompok: diskusi ini dilakukan oleh seluruh anggota

Kelompok ahli: kelompok ahli dapat dibentuk apabila materi dirasa cukup sulit. Kelompok ahli ini terdiri dari kumpulan anggota kelompok yang mendapat subtopik tertentu, misal "tema". Para anggota kelompok dengan subtopik tema akan berkumpul menjadi satu kelompok. Kemudian mereka bekerjasama mempelajari subtopik tersebut. Setelah selesai mempelajari subtopik tersebut, anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompoknya semula.

Acuan Penulisan:
Huda, Miftahul. 2014. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.




Macam-Macam Jenis Kecerdasan

Selama ini kita mengenal yang namanya tes kecerdasan. Tes ini sering disebut juga tes IQ. Tes IQ biasanya dinyatakan dalam angka. Semakin besar nilai yang didapatkan, maka semakin cerdas seseorang. Namun, tahukah kamu ada berapa jenis kecerdasan yang dimiliki manusia?

Gardner,1993 menyimpulkan setidaknya ada tujuh jenis kecerdasan yang dimiliki setiap orang dalam tingkatan yang besar maupun kecil (Amstrongs, 2014:14).

Apa sajakah tujuh kecerdasan itu?

1. Kecerdasan Linguistik

Kecerdasan ini menyangkut pemahaman terhadap linguistik bahasa (fonologi, sintaksis, semantik, dan pragmatiknya). Orang dengan kecerdasan ini mampu untuk meyakinkan orang lain dengan bahasanya untuk mengingat informasi, menjelaskan ataupun mengomunikasikan pengetahuan, bahkan merenungkan bahasa itu sendiri. Contoh orang dengan kecerdasan ini adalah: pendongeng, orator, penyait, editor, novelis, dan sebagainya.

2. Kecerdasan Kinestetik-Tubuh

Kecerdasan ini memungkinkan untuk mengontrol gerakan tubuh dan daya kapasitas seseorang untuk mengatasi objek dengan terampil. Contoh orang dengan kecerdasan ini adalah aktor, pantomin, pengrajin, atlet, penari, dan pematung, dan sebagainya.

3. Kecerdasan Spasial

Kecerdasan ini memungkinkan untuk memahami dunia visual secara akurat, melakukan transformasi dan modifikasi terhadap persepsi awal seseorang, serta dapat menciptakan kembali aspek pengalaman visual seseorang. Contoh orang dengan kecerdasan ini adalah arsitek, pembuat peta, surveyor, penemu, seniman grafis, dan sebagainya..

4. Kecerdasan Musikal

Kecerdasan ini memungkinkan untuk memahami dan mengekspresikan komponen musik. Contoh orang dengan kecerdasan ini adalah komposer, pianis, pemain perkusi, kritikus musik, penyanyi, dan sebagainya.

5. Kecerdasan Logika-Matematis

Kecerdasan ini memungkinkan untuk memahami dan menggunakan struktur logika, termasuk pola dan hubungan, dan pernyataan dan proposisi, emlalui eksperimen, kuantifikasi, konseptualisasi, dan klasifikasi. Contoh orang dengan kecerdasan ini adalah ilmuwan, ahli matematika, ahli logika, programmer komputer, ahli statistik, dan sebagainya.

6. Kecerdasan Intrapersonal

Kecerdasan ini memungkinkan untuk mengakses kehidupan emosional seseorang melalui kesadaran perasaan batin, niat, motivasi, potensi, temperamen, dan keinginan, serta kapasitas untuk melambangkan pengalaman-pengalaman batin tersebut, dan untuk menerapkannya guna membantu orang lain dalam menjalani kehidupan. Contoh orang dengan kecerdasan ini adalah psikoterapis, wirausahawan, seniman kreatif, ahli pengobatan, dan sebagainya.

7. Kecerdasan Interpersonal

Kecerdasan ini memungkinkan untuk melihat dan membuat perbedaan di antara individu-individu lainnya yang berkaitan dengan suasana hati, temperamen, motivasi, niat; dan menggunakan informasi ini dengan cara yang pragmatis, seperti untuk membujuk, memengaruhi, memanipulasi, mediasi, atau memberikan nasihat untuk tujuan tertentu. Contoh orang dengan kecerdasan ini adalah pengurus serikat pekerja, guru, terapis, administrator, politikus, dan sebagainya.

8. Kecerdasan Naturalis

Kecerdasan ini memungkinkan untuk mengenali dan mengklasifikasikan bermacam-macam spesies flora dan fauna di lingkungan dan kemampuan untuk memelihara, menjinakan, berinteraksi secara halus dengan mahluk hidup serta seluruh ekosistem. Contoh orang dengan kecerdasan ini adalah ahli zoologi, ahli biologi, dokter hewan, polisi hutan, dan pemburu.


Acuan Penulisan:
Amstrong, Thomas. 2014. Kecerdasan Jamak. Jakarta: Indeks.