Bahasa

yogananta damar | 5/18/2015 | 0 comments

Hakikat Bahasa

Menurut teori struktural, bahasa dapat didefinisikan sebagai suatu sistem tanda arbitrer yang konvensional. Bahasa juga bersifat sistematik dan sistemik. Bahasa bersifat sistematik karena ia mengikuti ketentuan-ketentuan atau kaidah yang teratur. Bahasa bersifat sistemik karena bahasa itu merupakan suatu sistem dan terdiri aatas subsitem-subsistem.

Ciri-ciri hakikat bahasa menurut  Chaer, Abdul & Agustin, Leonie (2010:12-14) adalah sebagai berikut:

1. Bahasa sebagai sebuah sistem lambang

Bahasa bersifat sistematis dan sistemis. Bahasa bersifat sistemis dikarenakan bahasa itu tersusun menurut suatu pola tertentu. Bahasa bersifat sistemis karenakan sistem bahasa bukanlah sebuah sistem tunggal, bahasa terdiri dari subsistem fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikon. Bahasa juga bersifat unik dan universal. Bahasa bersifat unik karena setiap bahasa memiliki ciri atau sifat khas yang tidak dimiliki bahasa lain. Bahasa bersifat universal karena bahasa juga memiliki ciri yang sama seperti yang ada pada semua bahasa.

2. Bahasa berupa bunyi

Sistem bahasa merupakan lambang-lambang dalam bentuk bunyi, yang lazim disebut bunyi ujar atau bunyi bahasa.

3. Bahasa bersifat arbitrer

Hubungan lambang dengan yang dilambangkan tidak bersifat wajib, dapat berubah, dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang tersebut mengonsepsi makna tertentu. Selain bersifat arbitrer bahasa juga bersifat konvensional yakni, setiap penutur bahasa akan mematuhi hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya.

4. Bahasa bersifat produktif

Bahasa terdiri dari sejumlah unsur yang terbatas namun unsur-unsur itu dapat dibuat satuan-satuan ujaran yang hampir tidak terbatas.

5. Bahasa bersifat dinamis

Bahsa yang ada di seluruh dunia ini tidak terlepas dari berbagai kemungkinan perubahan yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

6. Bahasa itu beragam

Meskipun mempunyai kaidah atau pola tertentu  yang sama, bahasa itu dapat menjadi beragam karena digunakan oleh penutur yang heterogen mempunyai latar belakang sosial dan kebiasaan berbeda.

7.Bahasa bersifat manusiawi

Bahasa meruapakn alat komunikasi semua makhluk hidup, namun sebagai alat komunikasi verbal bahasa hanya dimiliki manusia.

Bahasa Dalam Komunikasi

Terdapat dua aspek bahasa sebagai alat komunikasi yaitu aspek linguistik dan aspek nonlinguistik atau paralinguistik. Kedua aspek ini “bekerja sama” dalam membangun komunikasi-bahasa itu. Aspek linguistik mencakup tataran fonologis, morfologis, dan sintaksis. Ketiga tataran ini mendukung terbentuknya yang akan disampaikan yaitu semantik ( yang di dalamnya terdapat makna, gagasan, ide, atau konsep). Aspek paralinguistik mencakup hal-hal berikut ini kualitas ujaran, yaitu pola ujaran seseorang, seperti falseto (suara tinggi), staccato (suara terputus-putus). Unsur suprasegmental yaitu tekanan (stres), nada (pitch) dan intonasi. Jarak dan gerak-gerik tubuh seperti gerakan tangan, anggukan kepala, dan sebagainya (Chaer dan Agustina, 2010: 22)

Aspek linguistik dan paralinguistik berfungsi sebagai komunikasi, bersama-sama dengan konteks situasi membentuk dan membangun situasi tertentu dalam proses komunikasi. Hubungan alat komunikasi dengan konteks situasi itu dapat digambarkan sebagai bagan berikut (Chaer dan Agustina, 2010: 22).

(Chaer dan Agustina, 2010: 22)

Penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan jenis komunikasinya lainnya, termasuk pada hewan. Bahkan komunikasi membaca gerak bibir pada orang bisu tuli memiliki kekurangan yaitu mengandalkan penglihatan mata yang tidak berfungsi di tempat gelap. Sebaliknya, dengan bantuan alat-alat modern kini bahasa telah dapat menembus ruang dan waktu.
Untuk lebih memahami kelebihan komunikasi-bahasa ini, kita bandingkan dengan sistem komunikasi yang ada dalam dunia hewan. Para pakar tertarik untuk meneliti sistem komunikasi hewan dengan maksud mengetahui hal berikut (Chaer dan Agustina, 2010: 23).
1. Kinerja sistem komunikasi hewan.
2. Jenis binatang yang memiliki sistem komunikasi paling baik.
3. Jenis binatang yang dapat memperoleh kemampuan berbahasa bila dilatih sejak bayi.
4. Persamaan dan perbedaan sistem komunikasi binatang dan manusia.
Terdapat beberapa penelitian tentang bahasa pada hewan (Fromkin dan Rodman 1974 dan Akmajian dkk. 1979 via Abdul Chaer, 2010: 23).  Ada beberapa penelitian yang telah dilakukan terhadap sistem komunikasi berbagai jenis burung. Penelitian itu menyimpulkan bahwa dalam sistem komunikasi burung yang berupa “bunyi burung” dapat dibedakan adanya dua macam bentuk komunikasi, yaitu panggilan (bird call) dan nyanyian (bird song). Panggilan memiliki makna jadi, merupakan salah satu bentuk komunikas. Namun, hanya terbatas pada keadaan “sekarang’ dan “di sini”. Tidak ada untuk panggilan masa lalau dan yang akan datang. Komunikasi yang disebut “panggilan” ini tidak dapat berubah, disusun kembali untuk hal yang lain. Oleh karena itu tidak ada kreativitas dalam panggilan burung, seperti pada bahasa manusia.
Beberapa jenis burung termasuk beo dan kakak tua hanya memiliki kemampuan sampai tahap menirukan bunyi (termasuk ujaran) yang pernah didengarnya. Jelas hal ini tidak seperti manusia yang dapat membuat kalimat baru dalam jumlah yang tidak terbatas, bahkan yang belum pernah didengar dan dibuat orang, dari kata-kata yang diketahuinya.
Penelitian terhadap simpanse dan terhadap beberapa hewan primata lainnya menunjukkan bahwa simpanse berkomunikasi dengan tanda-tanda visual, tanda-tanda yang dapat dilihat berupa gerakan tubuh dan anggota badan lain, serta melalui pendengaran, penciuman, dan perabaan. Semua isyarat dan tanda yang digunakan simpanse itu tidak bervariasi, dan terbatas pada pesan-pesan yang ingin disampaikan, yang merujuk pada waktu itu juga. Simpanse tidak mampu menyatakan perasaan senang atau marah yang dialami pada masa lampau atau masa yang akan datang. Selain itu, hasil percobaan menunjukkan bahwa simpanse itu dapat memahami sejumlah kosakata dan dapat memahami sejumlah kalimat-kalimat sederhana tapi tidak dapat membuat kreasi baru. Itulah yang membedakan hewan dengan manusia. Oleh karena itu kalau bahasa didefinisikan hanya sebagai komunikasi, hewan pun memiliki bahasa (Chaer dan Agustina, 2010: 25).

Untuk lebih lengkap mengenai penelitian terhadap bahasa silahkan baca:
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2010. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Keistimewaan Bahasa Manusia 

Hockett dan Mc Neil (Hockett, Mc Neil, dan Chomsky via Chaer dan Agustina, 2010: 26) membahas ada 16 butir khusus yang membedakan sistem komunikasi bahasa dan system komunikasi makhluk lainnya:

1. Bahasa itu menggunakan jalur vocal auditif. 

Banyak hewan, termasuk jangkrik, katak, dan burung, yang sistem komunikasinya dapat didengar. Namun, tidak semuanya merupakan bunyi vocal. Katak, burung, dan oran utan ini mempunyai jalur vokal audiktif ini, seperti yang dimiliki manusia. Tetapi sistem komunikasinya itu tidak mempunyai ciri lainya yang dimiliki manusia.

2. Bahasa dapat tersiar ke segala arah; tetapi penerimaannya terarah. 

Maksudnya, bunyi bahasa yang diucapkan dapat didengar di semua arah karena suara atau bunyi bahasa itu merambat melalui udara tetapi penerima atau pendengar dapat mengetahui dengan tepat dari mana arah bunyi bahasa itu datang.

3. Lambang bahasa yang berupa bunyi itu cepat hilang setelah diucapkan. 

Hal ini berbeda dengan tanda atau lambang lain, seperti bekas tapak kaki hewan, dan patung kepahlawanan yang dapat bertahan lama.  Oleh karena ciri cepat hilangnya, sejak dulu orang bersaha melestarikan lambang bunyi bahasa ini dalam benruk tulisan.

4. Partisipan dalam komunikasi bahasa dapat saling berkomunikasi( interchangeability). 

Artinya, seorang bisa  menjadi seorang pengirim lambang dan dapat juga menjadi penerima lambang itu.

5. Lambang bahasa itu dapat menjadi umpan balik yang lengkap. 

Artinya, pengiriman lambang (penutut) dapat  mendengar sendiri lambang bahasa itu. Padahal dalam beberapa macam komunikasi kinetik (gerakan) dan visual (penglihatan) seperti dalam tarian lebah, si pengirim informasi tidak dapat melihat bagian-bagian penting dari tarian itu.

6. Komunikasi bahasa mempunyai spesialisasi. 

Maksudnya, manusia dapat berbicara tanpa harus mengeluarkan gerakan-gerakan fisik yang mendukung proses kominukasi itu. Manusia dapat berbicara sambil mengerjakan pekerjaan lain yang tidak berhubungan denga topik pembicaraan.

7. Lambang-lambang bunyi dalam komunikasi bahasa adalah bermakna atau merujuk pada hal-hal tertentu.

8. Hubungan antara lambang bahasa dengan maknanya 

Hubungan antara lambang bahasa dengan maknanya bukan ditentukan oleh  adanya suatu ikatan antara keduanya: tetapi ditentukan oleh suatu persetujuan atau konvensi  di antara para penutur suatu bahasa. Jadi hubungan antara lambang bunyi [kuda] dengan maknanya, yaitu ‘sejenis binatang berkaki empat yang bias dikendarai’ bersifat arbiter, semaunya.

9. Bahasa sebagai alat komunikasi manusia

Bahasa sebagai alat komunikasi manusiadapat dipisahkan menjadi unit satuan- satuan, yakni, kalimat, kata, mofren, dan fonem. Padahal alat komunikasi makluk lain merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan.

10. Rujukan tidak selalu harus pada waktu kini

Rujukan atau yang sedang dibicarakan dalam bahasa tidak harus selalu ada pada tempat dan waktu kini. Kita dapat menggunakan bahasa untuk sesuatu yang telah lalu, yang akan dating, atau berada di tempat yang jauh. Komunikasi makhluk lain, seperti tarian lebah, atau teriakan orang utan, hanya merujuk pada yang ada di tempat dan waktu tertentu.

11. Bahasa bersifat terbuka. 

Artinya, lambang-lambang ujaran baru dapat dibuat sesuai dengan keperluan manusia. Padahal teriakan simpase itu bersifat tertutup. Apa yang diteriakan simpase itu sudah tertentu, sebagaimana yang diwarisinya, tidak bisa ditambah lagi. Jadi, tersifat tertutup.

12. Kepandaian diperoleh dari belajar 

.Kepandaiandan serta kemahiran untuk menguasai aturan- aturan dan kebiasaan- kebiasaan manusia diperoleh dari belajar, bukan memalui gen-gen yang dimiliki sejak lahir. Berbeda dengan komunikasi hewan, seperti burung, simpase, dan lumba-lumba, yang dibawa sejak lahir.

13. Bahasa dapat dipelajari 

Sehubungan denga ciri (12) di atas, maka bahsa itu dapat dipelajari. Artinya, seseorang yang dilahirkan dan dibesarkan, misalnya, dalam bahasa A dapat mempelajari bahasa lain, yang bukan bahasa lingkungannya.

14. Bahasa dapat menyatakan benar atau salah

Bahasa dapat  digunakan utuk menyatakan yang benar dan yang tidak benar, atau juga yang tidak bermakna secara logika. Misalnya kita dapat mengatakan, ‘Penduduk Jakarta dewasa ini ada satu juta orang”, atau juga, ”Ibu  kota Kerajaan Inggris adalah Oxford’. Mengatakan sesuatu yang tidak benar hanya dapat dilakukan dalam komunikasi bahasa, pada komunikasi hewan hampir tidak ditemukan. Dengan kata lain, alat komunikasi manusia dapat digunakan untuk berdusta, sedangkan alat komunikasi hewan tidak dapat.

15. Bahasa memiliki dua subsistem

Bahasa memiliki dua subsistem yaitu subsistem bunyi dan subsistem makna, yang memungkinkan basaha itu memikiki keekonomisan fungsi. Keekonomisan fungsi ini terjadi karena bermacam-macam unit bunyi yang fungsional bisa  dikelompokan dan dikelompokan lagi ke dalam unit-unit yang berarti.

16. Bahasa dapat digunakan untuk membicarakan bahasa

Ciri terakhir bahasa itu sendiri dapat kita gunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri. Alat komunikasi dari hewan tak ada yang dapat digunakan untuk membicarakan alat komunikasi itu sendiri.

Fungsi Bahasa

Fungsi bahasa menurut M.A.K. Halliday dalam tulisanya yang berjudul Explorations in the functions of Language (1976:2) via Sumarlam mengemukakan tujuh fungsi bahasa. Ketujuh fungsi bahasa yang dimaksud adalah sebagai berikut.
a. Fungsi instrumental (the instrumental function)
Dalam hal ini bahasa berfungsi menghasilkan kondisi-kondisi tertentu dan menyebabkan terjadinya peristiwa-peristiwa tertentu. Fungsi ini secara umum dikenal dengan perintah atau imperatif. 
b. Fungsi regulasi (the regulation function)
Dalam hal ini bahasa berfungsi sebagai pengawas, pengendali, atau pengatur peristiwa; atau berfungsi untuk mengendalikan serta mengatur orang lain. 
c. Fungsi pemerian atau fungsi representasi (the representational function)
Bahasa berfungsi untuk membuat pernyataan-pernyataan, menyampaikan fakta-fakta dan pengetahuan, menjelaskan, atau melaporkan realitas yang sebenarnya sebagaimana yang dilihat atau dialami orang.
d. Fungsi interaksi (the interactional function)
Fungsi bahasa  yang menjamin dan memantapkan ketahanan dan keberlangsungan komunikasi serta menjalin interaksi sosial. Keberhasilan interaksi ini menuntut pengetahuan secukupnya mengenai logat, jargon, lelucon sebagai bumbu komunikasi, cerita rakyat (folklore), adat istiadat dan budaya setempat (termasuk didalamnya tata krama pergaulan).
e. Fungsi perorangan (the personal function)
Fungsi ini memberi kesempatan kepada pembicara untuk mengekspresikan perasaan, emosi, pribadi, serta reaksi-reaksi yang mendalam. Dalam hal ini bahasa yang dipakai untuk berkomunikasi biasanya menunjukkan kepribadian seseorang. Dari bahasa yang dipakai oleh seseorang maka akan diketahui apakah dia sedang marah, jengkel, sedih, gembira, dan sebagainya.
f. Fungsi heuristik (the heuristic function). Fungsi ini melibatkan penggunaan bahasa untuk memperoleh ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya dan mempelajari seluk-beluk lingkunganya. Fungsi heuristik ini mengingatkan pada apa yang secara umum dikenal dengan pertanyaan, sebab fungsi ini sering disampaikan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang menuntut jawaban. Secara khusus, anak-anak sering memanfaatkan penggunaan fungsi heuristic ini dengan berbagai pertanyaan “apa”, “mengapa”, dan “bagaimana” yang tidak putus-putusnya mengenai dunia sekeliling atau alam sekitar mereka.
g. Fungsi imajinatif (the imaginative function)
Dalam hal ini bahasa berfungsi sebagai pencipta sistem, gagasan, atau kisah yang imajinatif. Fungsi ini biasanya untuk mengisahkan cerita-cerita, dongeng-dongeng, membacakan cerita lucu, atau menuliskan cerpen, novel, dan sebagainya. (Sumarlam, 2003)



Category:

rumpunsastra.com:
Rumpunsastra.com menyediakan informasi terkait dengan Bahasa dan Sastra Indonesia

0 comments