Sinopsis Novel Azab dan Sengsara

yogananta damar | 6/02/2015 | 0 comments

Azab dan Sengsara

Merari Siregar

Aminudin ialah putra Baginda Diatas. Diatas ialah kepala kampung yang terkenal akan kedermawanan dan kekayaannya. Mayarakat di sekitar Sipirok sangat menyegani dan menghormati keluarga ini.
Tokoh Mariamin, memiliki ikatan dengan keluarga itu, namun ia tergolong anak miskin. Ayah Mariamin, Sutan Baringin.Alm. sebenarnya termasuk bangsawan kaya, namun karena semasa hidup ia sangat boros dan serakah, akhirnya jatuh miskin dan meninggal.
Kemiskinan keluarga itu tidaklah menghalangi Aminuddin untuk bersahabat dengan Mariamin. Mereka berdua memang sudah berteman akrab sejak kecil hingga dewasa. Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa benih cinta tumbuh di antara mereka. Mereka sepakat untuk hidup bersama, membina rumah tangga. Aminuddin berjanji hendak mempersunting Mariamin apabila ia sudah mendapat pekerjaan di Medan.
Bagi Mariamin dan Ibunya, tentu saja amat menggembirakan hati tatkala mendapat surat dari sang pujaan hati bahwa ia akan segera membawannya ke Medan.
Aminuddin telah menyampaikan kepada kedua orang tuannya tentang hubungannya dengan Mariamin. Sang Ibu tidak merasa keberatan. Hal itu karena ayah Mariamin masih kakak kandungnya sendiri. Maka jika putrannya kelak kawin dengan Mariamin, hal itu dapatlah dianggap sebagai salah satu usaha menolong keluarga miskin tersebut.
Pendapat sang Ibu berbeda dengan pendapat sang Ayah. Sebagai kepala kampung yang kaya dan disegani, ia ingin anaknya beristrikan orang yang sederajat. Menurut Baginda Diatas putranya lebih cocok kawin dengan wanita dari keluarga kaya dan terhormat. Bagi Baginda Diatas, perkawinan Aminuddin dengan Mariamin adalah suatu hal yang dapat merendahkan derajat dan martabat dirinnya. Karena itulah, ayah Aminuddin tidak setuju dan berniat menggagalkan pernikahan keduannya.
Agar tidak menyakiti hati sang istri, ayah Aminuddin mengajak sang istri pergi ke seorang dukun untuk melihat nasib putranya andaikata ia menikah dengan Mariamin. Itu adalah salah satu tipu daya Baginda Diatas untuk meluluhkan hati istrinya. Dukun itu sebelumnya telah mendapat pesan tertentu, yaitu agar memberikan ramalan yang dapat memupuskan rencana dan harapan Aminuddin. Tentu saja, mendengar ramalan buruk tentang nasib anaknya, ibu Aminuddin hanya dapat pasrah dan menerima keputusan suaminnya.
Akhirnya, orang tua Aminuddin memutuskan untuk meminang seorang gadis keluarga kaya yang bagi Baginda Diatas memiliki derajat yang sama. Aminuddin yang saat itu berada di Medan tentu tidak mengetahui apa yang telah dilakukan orang tuannya itu. Ia masih menunggu ayahnya membawa Mariamin ke Medan.
Setelah peminangan, ayah Aminuddin mengirim  sebuah pesan kepada anaknya yang isinya tentang kedatangan calon istrinya. Ia meminta agar Aminuddin dapat menjemput di stasiun. Tentu saat menerima pesan itu, Aminuddin belum mengetahui bahwa mempelai yang datang bukanlah Mariamin. Ia sangat bersuka cita dan segera mempersiapkan segala sesuatunnya. Namun, yang terjadi kemudian adalah kekecewaan. Ternyata ayahnya tidak membawa sang pujaan hati tetapi seorang gadis lain yang dijodohkan dengannya. Gadis itu bernama Siregar. Bagi Aminuddin sebagai seorang anak, ia harus patuh pada orang tua dan adat negerinnya. Aminuddin tidak dapat berbuat apa-apa, selain menerima keputusan ayahnya.
Bagi Mariamin, berita tentang perkawinan Aminuddin dengan Siregar sangatlah memukul batinnya. Ia sempat pingsan dan jatuh sakit. Setahun setelah peristiwa itu, Mariamin terpaksa menerima lamaran Kasibun. Kasibun bukanlah orang baik-baik kareba belakangan ia diketahui menceraikan istrinya demi menikahi Mariamin. Kasibun kemudian membawa Mariamin ke Medan. Penderitaan Mariamin tidak sampai di situ. Suaminya ternyata mengidap penyakit seks. Hal itu yang menyebabkan Mariamin selalu menghindar jika suaminya ingin berhubungan dengannya. Alhasil Mariamin disiksa sejadi-jadinya oleh suaminya. Suatu ketika Aminuddin secara kebetulan datang. Mariamin menerimanya dengan senang hati. Namun bagi Kasibun, kedatangan Aminuddi itu justru mengobarkan amarahnnya. Ia melapiaskan amarahnya dengan menyiksa istrinya.
Akhirnya Mariamin mengadu kepada polosi. Polisi kemudian memutuskan bahwa Kasibun harus memutuskan tali perkawinan dengan Mariamin, serta harus membayar denda. Penderitaan mariamin belumlah berakhir. Berbagai penderitaan masih menimpa wanita itu hingga ajal menjemput.


Category:

rumpunsastra.com:
Rumpunsastra.com menyediakan informasi terkait dengan Bahasa dan Sastra Indonesia

0 comments