Sinopsis Novel Muda Teruna

yogananta damar | 6/02/2015 | 0 comments

Muda Teruna

Pengarang  : Muhammad Kasim (1886)
Penerbit      : Balai Pustaka
Tahun          : 1922

Orang tua Marah Kamil adalah saudagar kaya. Dalam perjalanan mengantarkan emas pesanan orang di Natal Marah Kamil bertemu pencuri yang hendak mengambil emas yang dibawannya. Namun Marah Kamil tidak kalah akal. Berkat kecerdikannya ia mampu mengelabuhi sang pencuri. Tak hanya pencuri ia juga sempat bertemu dengan dua orang penipu. Sama seperti sang pencuri, kedua orang penipu itu ternyata juga tak mampu mengakali Marah Kamil. Marah Kamil berhasil kembali menemui orang tuannya dengan uang penjualan emas yang masih utuh.
Anni merupakan gadis tambatan hati Marah Kamil. Ia tinggal di kampung M. Anni pun ternyata juga menyimpan rasa terhadap Marah Kamil dan mereka saling jatuh cinta.
Suatu kala, Marah kamil membantu Abdurrahman, yang berniat melarikan seorang gadis. Dalam adat Mandailing sendiri, ada tiga cara yang biasa dipakai bila menjemput anak gadis. Pertama dengan upacara kebesaran yang tentunya membutuhkan biaya yang besar. Kedua, dengan cara yang sederhana, namun tetap saja membutuhkan biaya. Cara yang ketiga adalah seperti yang diperbuat Abdurahman. Meski cara ketiga ini tidak membutuhkan biaya yang besar, namun pemuda di sana, sesuai adat Mandailing tidak akan melepaskan sang gadis bila dilarikan pemuda lain. Karena kecerdikan Marah Kamil dan kerjasama pemuda di kamoungnya, sahabatnya itu bisa melaksanakan misi pelarian sang pujaan hati.
Nasib Abdurahman berbeda dengan Marah Kamil. Meskipun cinta tidak bertepuk sebelah tangan, Marah Kamil harus menghadapi kedua orang tuannya. Orang tua Marah Kamil tidak menyetujui apabila Marah Kamil mempersunting Anni. Karena patah hati, Marah Kamil memutuskan untuk pergi merantau.
Dalam perantauannya, Marah Kamil bekerja dengan seorang pedagan emas. Ia diberi pekerjaan sebagai juru tulis dan mandor kuli. Suatu ketika, dalam perjalanannya mencari emas, Marah Kamil terpisah dan tersesat di hutan. Nasib buruk memang, sesampainya di kampung pinggiran, ia justru disangka pelarian tahanan. Padahal, kampung itu adalah kampunnya sendiri.
Setelah bertemu orang tuanya, ia mendapat banyak nasihat salah satunya tentang bagaimana hidup itu berlaku.
Dalam pengembaraan yang selanjutnya, Marah Kamil berkenalan dengan Duakip. Ia menyaksikan nasib buruk Duakip karena selalu ditipu orang.
Di Bangkahulu, Marah Kamil sempat menemukan sejumlah uang yang akhirnya dikembalikan kepada yang memiliki. Zainul namanya. Karena itulah mereka menjadi sahabat karib, bahkan Zainul mengajak Marah Kamil berdagang kelontong bersama-sama. Marah Kamil tidak tahan dengan pekerjaan itu karena harus berjualan dari satu kampung ke kampung yang lain. Ia memutuskan untuk berhenti berdagang, kemudia melanjutkan pengembaraannya.
Sesampainya di Pasemah ia berkenalan dengan seorang lelaki tua yang memuji kepintaran Belanda. Setelah itu ia melanjutkan pengembaraan ke Jambi. Ketika menuju Jambi, perahu yang ditumpanginya karam karena diserang perompak. Ia dibawa perompak dan diangkat menjadi anak oleh salah seorang perompak. Ia tinggal beberapa bulan di pulau itu dan diajari berbagaimacam hal.
Suatu ketika, Marah kamil mengikuti ayah angkatnya ke suatu gua tempat penyimpanan barang rampokan. Pada saat itu juga ia mengetahui bahwa ayah angkatnya bukan orang baik. Dalam pengintaianya, ia dipergoki oleh seorang anggota perompak. Ia dikejar sampai ke tengah laut. Ia beruntung karena ditolong oleh dua orang Belanda. Ia sangat berterimakasih kepada orang Belanda itu. Ternyata orang itu adalah mantan majikannya ketika menjadi juru tulis.

Marah Kamil melanjutkan pengembaraanya ke Singapura dengan mengikuti tuannya itu. 

Category:

rumpunsastra.com:
Rumpunsastra.com menyediakan informasi terkait dengan Bahasa dan Sastra Indonesia

0 comments