5 Metode Pembelajaran dalam Pendekatan Kolaboratif

yogananta damar | 10/17/2016 | 0 comments

Metode-Metode Pembelajaran dalam Pendekatan Kolaboratif

Postingan ini merupakan lanjutan dari post Pendekatan Kolaboratif. Sebelumnya, dalam Pendekatan Kolaboratif telah dibahas pula lima metode pembelajaran di antaranya 1) Teams Games Tournament (TGT), 2) Teams Assisted Individualization (TAI), 3) Student Team Achievement Division (STAD), 4) Numbered Head Together (NHT), 5) Jigsaw. Kali ini saya akan melanjutkan lima metode pembelajaran lainnya.

6. Think Pair Share (TPS)

Metode pembelajaran Think Pair Share menggunakan gagasan tentang waktu 'tunggu atau berpikir' di dalam elemen interaksi pembelajaran kooperatif. Metode pembelajaran TPS memiliki manfaat 1) memungkinkan siswa untuk bekerja sendiri maupun bekerja sama dengan teman; 2) mampu mengoptimalkan partisipasi siswa; 3) memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi dalam kelompok. 
Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Pembagian kelompok: siswa dibagi ke dalam kelompok yang beranggotakan 4 orang.

Pemberian tugas: guru memberikan tugas pada setiap kelompok.

Bekerja dalam kelompok: siswa mulai bekerja atau mengerjakan tugas dari guru secara mandiri dalam kelompok.

Membentuk pasangan: kelompok membentuk anggota-anggotanya secara berpasangan, lalu setiap pasangan berdiskusi atas pekerjaannya.

Diskusi dalam kelompok: setelah selesai diskusi berpasangan, dilanjutkan diskusi dalam kelompok masing-masing.

7. Two-Stay Two-Stray

Metode pembelajaran Two-Stay memiliki tujuan supaya siswa dapat bersosialisasi dengan baik: saling bekerja sama, bertanggung jawab, saling membantu memecahkan masalah, dan saling mendorong satu sama lain untuk berprestasi.
Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Pembagian kelompok: siswa dibagi ke dalam kelompok yang beranggotakan 4 orang. 

Pemberian subpokok bahasan: guru memberikan tugas pada setiap kelompok untuk dibahas bersama-sama dengan anggota kelompok.

Bekerja dalam kelompok: siswa mulai bekerja atau mengerjakan tugas dari guru secara bersama-sama dalam kelompok.

Diskusi antar kelompok: 2 anggota masing-masing kelompok pergi meninggalkan kelompoknya dan berdiskusi dengan kelompok lain sebagai 'tamu', sedangkan 2 anggota yang tinggal di dalam kelompok bertugas sebagai 'tuan rumah' untuk menyampaikan hasil kerja kelompoknya kepada kelompok 'tamu' yang datang.

Diskusi dalam kelompok: 'tamu' kembali ke kelompoknya sendiri untuk membahas dan mencocokan pekerjaannya.

Presentasi hasil kerja: masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja.

8. Role Playing

Metode pembelajaran Role Playing dikenal juga sebagai metode bermain peran. Metode pembelajaran ini mengkondisikan siswa dalam situasi tertentu di luar kelas (situasinya bukan KBM nya). Pembelajaran dengan metode ini membutuhkan imajinasi dan penghayatan siswa. Sebab, pembelajar harus membayangkan dirinya seolah-olah menjadi orang lain. 
Keunggulan metode Role Playing: 1) kesan yang ditimbulkan dalam pembelajaran kuat, 2) mendapa pengalaman belajar menyenangkan, 3) suasana kelas menjadi dinamis, 4) membangkitkan gairah siswa, 5) siswa dpaat langsung memerankan sesuatu yang dipelajari.

Kelemahan metode Role Playing: 1)waktu yang dibutuhkan sangat banyak, 2) membutuhkan latihan, 3) membutuhkan susasana yang kondusif, 4) persiapan harus benar-benar matang, 5) tidak semua mater dapat disajikan.
Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Persiapan skenario: guru menyiapkan skenario yang akan ditampilkan.

Pemilihan pemeran: guru memilih beberapa siswa untuk mempelajari skenario, harus dilakukan beberapa hari sebelum pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar. 

Membentuk kelompok: guru membentuk kelompok yang terdiri dari 5 orang.

Menjelaskan kompetensi yang akan dicapai: guru menjelaskan kompetensi sebelum pelajaran dimulai.
Pertunjukan: guru mempersilahkan permain yang telah ditunjuk sebelumnya untuk memulai pertunjukan. 

Pembagian lembar kerja: setelah mengamati pertunjukan. setiap siswa diberi lembar kerja untuk membahas/menilai penampilan.

Penyampaian hasil kelompok: setiap kelompok menyampaikan hasil pembahasan/ hasil penilaiannya.

Kesimpulan dan evaluasi dari guru: guru memberikan kesimpulan dan evaluasi.

9. Pair Check

Sesuai namanya, metode pembelajaran Pair Check menerapkan pembelaran dengan kelompok antar dua orang (pair). Metode ini menuntuk kemandirian dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan persoalan. 
Pengaturan pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini secara umum adalah sebagai berikut:
a. siswa bekerja berpasangan
b. pembagian peran partner dan pelatih
c. pelatih memberi soal, partner yang menjawab
d. bertukar posisi
e. menyimpulkan hasil pembelajaran
f. evaluasi
g. refleksi

10. Cooperative Script

Strategi cooperative script ini memiliki tujuan untuk membantu siswa dalam berpikir secara sistematis dan berkonsentrasi pada materi pelajaran. 
Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini secara umum adalah sebagai berikut:
Pembagian kelompok: guru membagi siswa ke dalam kelompok secara berpasangan.

Pemberian materi: guru memberikan materi untuk dibaca dan dibuat ringkasannya.

Membagi peran: guru dan siswa menetapkan siapa yang menjadi peran pembicara dan siapa yang menjadi peran pendengar.

Penyampaian ringkasan: Pembicara menyampaikan ringkasannya kepada pendengar. Pendengar menyimak dan menghubungkan bahasan dengan materi sebelumnya.

Bertukar peran: siswa yang semula sebagai pembicara bertukar menjadi pendengar, dan sebaliknya.

Membuat kesimpulan: guru dan siswa bersama-sama membuat kesimpulan dari materi yang sudah dipelajari.




Category: ,

rumpunsastra.com:
Rumpunsastra.com menyediakan informasi terkait dengan Bahasa dan Sastra Indonesia

0 comments