Ayo Menulis

yogananta damar | 10/20/2016 | 0 comments

Ayo Menulis

Menulis merupakan sebuah kegiatan yang membutuhkan motivasi. Banyak orang merasa dirinya gagal sebagai penulis, mengapa? Seperti yang telah diungkapkan di awal, mungkin mereka kurang motivasi saja. Pernahkah kalian dengar kata-kata bijak yang mengatakan bahwa: 
Kamu belum gagal semasa belum menyerah. Kamu gagal ketika telah menyerah.

"Tidak menyerah", itulah kunci dalam keberhasilan menulis. Jangan hanya berkata dalam hati "saya tidak menyerah", namun tanpa tindakan apapun. Tidak menyerah menulis harus diikuti dengan terus berproses menulis dan bersabar. Untuk mempertahankan motivasi menulis, kalian tentu membutuhkan alasan yang kuat bukan? Bagi kalian yang memiliki jiwa sosial yang tinggi, ingatlah! 
Menulis akan membuat kita bermanfaat bagi orang lain

Menulis itu susah?

Menulis itu susah? Ah... apa iya? Banyak orang merasa (waduh pakai ilmu perasaan) dirinya susah menemukan ide, susah merangkai kata-kata, struktur tulisan sulit, dan sebagainya. Ya... ya...ya.... tidak apa-apa.  Masalah-masalah seperti diatas sudah biasa dihadapi penulis
Kunci untuk menyelesaikan permasalahannya sebenarnya sangat simple, yaitu "biasakan diri untuk menulis."
Lihatlah pemain sirkus yang melakukan atraksi menakjubkan seperti bersepeda di atas seutas tali, lihatlah atlet panahan yang mampu memanah dengan akurat, atau lihat saja perenang! Apakah kemampuan pemain sirkus tadi didapatkan secara langsung? Simsalabim kalau kata Alibaba. Apa iya orang langsung bisa bersepeda di atas seutas tali? Semua membutuhkan proses, latihan, dan ketekunan. Ada yang mengibaratkan menulis seperti memanah - artinya butuh konsentrasi. Ada juga yang mengibaratkan menulis itu seperti berenang - "kalian boleh tahu teori renang, tapi apa kalian bisa berenang tanpa menceburkan diri ke air" - intinya kita harus membiasakan diri menulis kalau ingin menulis. 

Bagaimana mengawali kebiasaan menulis?

Mengawali kegiatan menulis merupakan usaha yang mudah. Kalian bisa mulai dari menulis buku harian. Apabila kalian malas membeli buku, malas menulis dengan tangan, saran saya cobalah menulis via blog. Materi tulisan blog tidak harus rumit. Kalian bisa mulai dari bercerita diri kalian, makanan favorit, hoby, kegiatan sehari-hari.

Pembagian tulisan

Ada dua pembagian jenis tulisan yaitu, tulisan fiksi dan tulisan nonfiksi. Tulisan fiksi adalah tulisan dengan konten peristiwa yang tidak sungguh-sungguh terjadi. Berbeda dengan tulisan fiksi, tulisan nonfiksi memiliki konten berupa fakta yang sungguh-sungguh terjadi.
Pembagian tulisan secara garis besar dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Pembagian tulisan

Menggali Ide Tulisan

Untuk mendapatkan ide bisa beragam cara. Cara-cara yang dilakukanpun juga beraga, tergantung dari jenis tulisan apa yang hendak kalian buat. Salah satu kegiatan yang dapat kalian lakukakn untuk menggali ide adalah dengan membaca. Membaca memiliki hubungan yang erat dengan menulis.
Untuk bisa 'menulis' kita harus banyak 'membaca'
Dengan membaca, penulis dapat memperoleh informasi baru atau bahkan menggali lebih dalam dan menciptakan kreatifitas terhadap 'informasi yang telah kita miliki sebelumnya' (pengalaman ataupun realita kehidupan penulis). Lelah membaca tulisan ini? Silahkan baca cerita di bawah ini untuk menyegarkan pikiran:

Kisah Murid dan Master Zen
Seorang anak lelaki menangkap seekor burung kecil dan menyembunyikannya dibelakang punggunya. Dia lantas mendatangi gurunya dan bertanya, "guru, apakah burung yang ada di tanganku ini hidup atau mati?" Dia berpikir inilah kesempatan bagus untuk melakukan tipu daya terhadap gurunya. Bila sang guru menjawab 'mati', maka ia akan melepaskan burung itu ke udara. Sebaliknya, bila si guru menyahut 'hidup', maka ia tinggal mencekik leher burung tersebut. Sang guru menguncinya dengan berkata "Jawabannya ada ditanganmu."
Bagaimana sudah segar? Sudah pernah membaca cerita di atas? Atau sudah menemukan ide untuk menulis sesuatu

Copy From The Master

Cara ini bukan berarti saya menganjurkan anda untuk melakukan plagiat. Untuk memahami topik copy from the master ini, saya akan gunakan sebuah cerita lagi. Silahkan baca cerita di bawah ini:

Menjadi Master Lukis
Seorang anak lelaki datang kepada master Zetsu dari Jepang. Ia adalah pelukis terkenal. Sang anak bertanya "Bagaimana agar aku bisa cepat menjadi pelukis terkenal?" Sang master memberikan jawaban dengan bercerita. "Zaman dahulu ada pelukis terkenal. Ia adalah master Tetsuo. Ia memiliki banyak murid. Salah seorang siswanya ingin cepat terkenal, maka ia meniru polesan dan sapuan lukisan Tetsuo. Ia berniat menarik perhatian banyak orang. Maka suatu hari didepan pakar seni ia berkata "Aku adalah murid Tetsuo, pelukis kesohor itu. Bagaimana pendapat kalian mengenai karyaku?" Bukanya pujian yang didapat ia justru mendapat celaan. "Apa benar kamu murid Tetsuo? Bagaimana mungkin seorang Tetsuo menghasilkan seorang dengan keterampilan yang begitu rendah? Kamu tak lain hanyalah penjiplak, dan penjiplak yang jelek." Di akhir cerita, master Zetsu bertanya kepada muridnya, "Apakah yang kamu dapat dari cerita tersebut?" Sang murid menjawab, "Tidak ada jalan pintas menuju ketenaran." Dengan jawaban sang murid, master Zetsu tersenyum dan berkata, "Sekarang, tirulah lukisan master Zetsu ini sebaik baiknya!" Begitu selesai dengan lukisan itu, sang guru memberikan murid lukisan dari pelukis-pelukis kesohor lainnya." Begitulah seterusnya hingga sang murid mendapatkan bentuk lukisan yang khas sesuai dengan kepribadiannya.  
Sama halnya dengan melukis, menulis juga memerlukan kekhasan. Tulisan terdiri dari dua struktur yaitu ide atau gagasan dan teknik penyajian. Kekhasan dalam menyampaikan ide atau gagasan dengan teknik penyajian harus dimiliki penulis. 


Category:

rumpunsastra.com:
Rumpunsastra.com menyediakan informasi terkait dengan Bahasa dan Sastra Indonesia

0 comments