Contoh Teks Fabel : BAG FROGO DAN KATAK KECIL

Sin Nopize | 9/27/2016 | 0 comments

BAG FROGO DAN KATAK KECIL

Oleh: D.Y

Di suatu hutan, terdapat sebuah desa katak. Desa itu dulunya sangat makmur dan memiliki banyak persediaan air. Tapi kini desa itu terlihat gersang semenjak kemarau yang berkepanjangan. Gubuk-gubuk katak terlihat coklat kering akibat kurangnya siraman air. Pohon-pohon juga terlihat layu. Hal itu membuat banyak katak kesakitan dan akhirnya mati.

Katak sebagai hewan amfibi tentu memerlukan air untuk hidup. Terlebih kulitnya harus selalu lembab. Oleh sebab itu untuk mengatasi kekurangan air di desa katak, setiap katak diutus oleh Kepala Desa untuk mencari sumber air terdekat. Sesudah pencarian yang lama, akhirnya ditemukan sebuah sumber air. Namun sayang, letaknya tidaklah dekat dengan desa tersebut. Sumber air tersebut berada di dekat puncak gunung. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengambil air dan kembali ke desa. Katak biasa hanya bisa mengambil sebanyak satu kali sehari atau dua ember perhari.
Namun karena desakan kebutuhan hidup, mereka mulai mengambil air dari mata air itu. Alat yang digunakan adalah sebuah tongkat dan dua buah ember. Tongkat digunakan dibahu untuk menopang dua ember air. Satu ember di sebelah kanan, dan satunya di sebelah kiri. Karena tidak semua katak mampu menempuh jarak yang jauh untuk mengambil air, akhirnya Kepala Desa membuka tempat pelelangan air. Di tempat tersebut, katak-katak bisa menjual air maupun membelinya. Tentu saja harganya juga lumayan mahal karena jarak tempuh yang jauh.
Frogo adalah nama katak jantan yang bertubuh paling besar. Tubuhnya sangat kekar. Ia bisa mengambil air sebanyak lima kali sehari atau sepuluh ember perhari. Sebagai katak yang bisa mengambil banyak air, ia menjadi katak paling kaya di desa tersebut. Ia mendapatkan banyak uang dari hasil menjual air di tempat pelelangan air yang disediakan Kepala Desa. Tentu saja, mayarakat desa juga merasa terbantu dengan adanya persediaan air yang cukup.
Dengan tubuhnya yang kekar dan uangnya yang berlimpah, ia menjadi katak yang sombong. Ia diberi julukan “Bag” yang artinya perkasa. Katak-katak di desa tersebut sering memangginya Bag Frogo. Frogo pun merasa senang dan terhormat mendengar julukan tersebut.
Suatu ketika ada seekor katak dengan tubuh kecil ingin meminta sedikit air karena ibunya yang sedang sakit. Katak bertubuh kecil itu harus menunggu ibunya oleh sebab itu ia tidak bisa mengambil air.
“Frogo-Frogo, mohon berilah saya sedikit air, ibu saya sedang sakit, saya harus menunggu ibunda sehingga tidak bisa mengambil air!” Mendengar namanya disebut tanpa menggunakan julukannya, Frogo merasa dihina. Ia pun geram.
 “Apa kamu bilang? Jangan sok akrab denganku! Panggil aku Bag Frogo! Seluruh desa ini sudah tahu akulah sang perkasa Frogo, Bag Frogo! Jangan harap aku memberimu air katak dungu!”
“Kumohon Bag Frogo berilah sedikit air” dengan merendahkan diri, katak bertubuh kecil itu memanggil nama Frogo sesuai permintaannya.
“Terlambat, kamu sudah membuat suasana hatiku tidak enak. Dasar pemalas! Lihatlah tubuhmu yang kurus itu, pasti kau sangat malas. Ambil air sendiri!” Mendengar jawaban tersebut, hati katak sangat terpukul.
Karena tidak ada cara lain lagi, akhirnya Katak Kecil tersebut pergi mengambil air sendiri. Dengan perasaan khawatir akan ibunya yang sedang sakit, ia berusaha secepat mungkin mengambil air dan segera pulang. Seperti apa yang dikhawatirkan Katak Kecil tersebut, ketika Katak Kecil sedang mengambil air, tiba-tiba sakit ibunya kumat. Seseorang harus segera membawannya ke tabib. Beruntung, saat itu Kepala Desa sedang berkeliling mengunjungi setiap warganya. Sampailah Kepala Desa di rumah Katak Kecil. Ia melihat ibu Katak Kecil terbaring lemas dan segera membawanya ke tabib.
Sesampainya di rumah, Katak Kecil terkejut melihat ibunya tidak ada di rumah. Namun beberapa saat kemudian, tetangganya memberitahu bahwa tadi ada Kepala Desa mengunjungi rumahnya. Ia segera berlari mengunjungi Kepala Desa untuk menanyakannya.
            “Selamat sore Pak Kepala Desa, apakah bapak tahu dimana ibu saya?” Katak Kecil merasa sangat khawatir, ia takut terjadi sesuatu dengan ibunya.
            “Ya, selamat sore, silahkan masuk dulu.” Kepala Desa adalah katak yang sangat ramah. Selain itu ia juga baik hati. Banyak warga menyukainya. Oleh sebab itu ia ditunjuk sebagai Kepala Desa Katak.
            “Begini, tadi saya berkunjung ke rumah. Saya melihat ibumu terkapar lemas di bawah. Jadi saya membawanya ke tabib Ongki. Kata tabib Ongki keadaan beliau sudah lebih baik, nanti sudah boleh pulang. Tapi beliau berpesan supaya kamu menjaga ibumu baik-baik.” Mendengar penjelasan dari Kepala Desa, Katak Kecil merasa lega.
            Katak Kecil dihadapkan dengan dua permasalahan. Yang pertama ia harus selalu di sisi ibunya, sedangkan yang kedua ia harus mengambil air. Dengan kedua permasalahan tersebut, Katak Kecil tidak menyerah. Suatu ketika ia memberikan segelas air untuk diminum ibunya. Ia melihat bahwa air bergerak di dalam gelas dari bagian yang tinggi menuju bagian yang rendah. Katak Kecil mendapat ide untuk membuat mata air di gunung agar bisa dialirkan ketempatnya. Ia tidak lagi mengambil air tapi kini Katak Kecil berusaha membuat pipa dari batang bambu menuju ke rumahnya. Ia menjual barang, barangnya untuk membeli keperluan hidup sementara ia membangun saluran air.
            Melihat Katak Kecil semakin terlihat miskin, Frogo justru merasa senang. Ia merasa bahwa Katak Kecil pemalas memang pantas hidup miskin. Berbeda dengannya yang giat bekerja. Ia merasa pantas berfoya-foya setelah apa yang dikerjakannya.
“Lihatlah pemalas itu! Ia sampai harus menjual barang-barangnya.” Dengan bangga Frogo mencibir Katak Kecil dihadapan teman-temannya.
Tentu saja Katak Kecil merasa sakit dengan ucapan Frogo tapi justru hal itu dianggapnya sebagai cambukan untuk tetap bersemangat. Tidak seperti yang dipikirkan Frogo, Katak kecil tadi tidaklah bermalas-malasan. Ia membangun sedikit demi sedikit. Pagi hari ia menyiapkan makanan untuk ibunya. Siang hari ia memotong bambu. Sore hari ia membawanya untuk digabungkan dengan saluran yang sebelumnya.
Hari-hari berlalu, simpanan makanan dan air dari hasil penjualan barang Katak Kecil pun habis. Ia terpaksa harus meminjam seseorang. Tapi siapa? Ia membayangkan akan meminjam Bag Frogo, tapi ia tahu bahwa Bag Frogo sangat membencinya. Meskipun dapat ia harus menanggung rasa sakit hati lagi. Sempat juga terpikir untuk meminjam Kepala Desa, tapi Kepala Desa juga sudah tidak memiliki kelebihan uang. Ia juga hidup pas-pasan. Karena tidak ada pilihan lain ia tetap datang menemui Bag Frogo di tempat pelelangan. Saat itu Frogo baru saja selesai menjual air dengan pedagang di pelelangan. Ia baru saja mendapatkan uang dari pekerjaanya mengangkut sepuluh ember air.
“Bag Frogo, bolehkah aku meminjam sedikit uangmu, persediaanku sudah habis.”
“Hah? Pinjam? Memangnya kamu bisa mengembalikannya? Lihat teman-teman, katak pemalas ini mau meminjam uang! Bagaimana kamu mau mengembalikannya? Urus saja ibumu, sana!” Seusai berkata demikian Bag Frogo masih mengolok-olok Katak Kecil dihadapan teman-temannya.
Sesuai dugaan katak kecil. Sekarang ia benar-benar kapok berhubungan dengan Frogo. Beruntung ada Katak Baik di pelelangan. Ia merasa kasihan melihat Katak Kecil diolok-olok seperti itu. Ibu dari Katak Baik itu juga sakit, oleh sebab itu ia memiliki empati dengan Katak Kecil. Ia memberikan sedikit pinjaman untuk katak kecil. Dengan sedikit pinjaman dari Katak Baik tersebut katak kecil berhasil bertahan hidup dan menyelesaikan saluran airnya.
Air mengalir melimpah menuju penampungan air milik katak kecil. Dengan persediaan air yang Katak Kecil mulai menjual air tersebut ke tempat pelelangan. Semua pengunjung pelelangan heran bagaimana bisa Katak Kecil mengambil air sebanyak itu? Akhirnya katak kecil menjadi katak paling kaya di desa tersebut.
Frogo merasa tersaingi. Ia merasa iri dengan apa yang didapatkan katak kecil. Namun Frogo tidak tahu bagaimana katak kecil mendapatkan air tersebut. Karena merasa kalah dengan katak kecil, Frogo menambah intensitas pengambilan air. Dari yang biasanya sepuluh ember perhari, kini ia naikan menjadi dua puluh ember perhari. Dengan dua puluh ember perhari. Frogo menjadi katak paling kaya lagi.
Hari demi hari berlalu, tubuh Frogo yang dulu kekar kini kian kurus akibat kelelahan dan kurangnya waktu istirahat akibat mengejar target dua puluh ember setiap hari. Tubuh Frogo pun akhirnya tidak kuat lagi untuk diajak mengambil air. Meski begitu Frogo masihlah sombong. Ia masih saja berfoya-foya, tak sadar bahwa hartanya semakin habis. Akhirnya Frogo jatuh miskin.
 Berbeda dengan Frogo, Katak Kecil masih sanggup membawa lima belas ember untuk dijual ditempat pelelangan karena Ia hanya perlu membawanya dari rumah menuju tempat pelelangan. Jaraknya tidaklah jauh. Katak kecil semakin kaya dan dihormati di desanya. Katak Kecil ingat bagaimana sakit hatinya dulu ketika ia dihina oleh katak-katak kaya. Oleh sebab itu ia memutuskan untuk tidak berbuat sombong kepada katak yang kurang mampu. Ia sering sekali menolong katak-katak yang kesulitan.
           

Category:

rumpunsastra.com:
Rumpunsastra.com menyediakan informasi terkait dengan Bahasa dan Sastra Indonesia

0 comments