Pengertian dan Contoh Teks Anekdot

Sin Nopize | 9/27/2016 | 0 comments

Pengertian Anekdot

Anekdot adalah istilah yang sering dipakai untuk menceritakan kisah atau pengalaman lucu, menarik, ataupun mengesankan. Biasanya, penulisan anekdot berdasarkan pengalaman orang lain ataupun pengalaman penulis. 
Syarat cerita anekdot haruslah sederhana dan singkat, dan langsung. Artinya, mulai dari permulaan dan berakhirnya cerita tidak menggunakan kilas-balik. Dialog dan deskripsi singkat situasi boleh dimasukan dalam karangan anekdot. 

Contoh Teks Anekdot

CERITA HOROR DI PUSAT KEGIATAN MAHASISWA

Oleh: D.Y

            Ada empat orang sahabat kuliah di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Jurusan yang mereka ambil adalah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Mereka adalah Susi, Dewi, Ratna, dan Sinta. Sebagai sahabat, mereka saling berbagi apa yang mereka miliki. Mereka selalu ada di saat suka maupun duka. Empat serangkai ini memiliki hobi yang cukup aneh yaitu suka hal-hal yang berbau mistis. Mereka suka meneliti tempat-tempat yang dianggap angker untuk dijadikan sebuah cerita horor. Bukan hanya itu kebiasaan mereka, empat sahabat itu juga sering berbagi cerita-cerita horor satu sama lain.

            Diantara ketigannya, Susi lah yang paling getol bercerita. Seperti biasa, pada jam-jam kosong menjelang perkuliahan berikutnya, mereka asyik ngerumpi.       
“Heh ... teman-teman, sudah dengar info pengendara mio tanpa kepala yang sering muncul baru-baru ini?” kata Susi.
“Sudah...” jawab Dewi, Ratna, dan Sinta serempak.
“Nggak nyata itu.” seloroh Dewi.
“Kalau suara-suara mistis di Pendopo Tejokusumo sudah pernah tahu?” tanya Susi.
“Sudah..., sudah lama kamu cerita itu.” Jawab Dewi
“Emm apalagi ya...” pikir Susi.
“Kalau kisah horor kamar mandi perempuan Pusat Kegiatan Mahasiswa  lantai tiga sudah pernah dengar?” kata Susi lagi.
“Belum...belum gimana ceritannya?” kata Sinta dengan muka berharap.
“Ah nggak seru kalau aku ceritain. Pokoknya horor, bener-bener horor. Mending nanti sore, pukul 18.00 kalian langsung buktikan sendiri!” kata Susi dengan percaya diri menantang teman-temannya.
Seperti yang dikatakan Susi, ketiga temannya datang ke Pusat Kegiatan Mahasiswa  pukul 18.00. Sesampainya di sana, mereka bergegas naik ke lantai tiga untuk melihat suasana kamar mandi putri. Aura kegelapan terlihat begitu kuat karena lampu yang rusak yang hidup-mati-hidup-mati. Ditambah  ternit yang berjamur karena genting yang bocor membuat suasana semakin mencekam. Di sana ada dua pintu kamar mandi. Dewi mencoba membuka salah satu pintu tersebut tapi ternyata terkunci. Penjaga Pusat Kegiatan Mahasiswa  memang sering mengunci kamar mandi apabila ada kerusakan. Ia pun melihat ke arah atas dan terlihat ventilasi berwarna hitam menandakan lampu di dalam belum dinyalakan. Dewi menyimpulkan tidak ada orang, karena kalau ada orang, pasti lampu akan dihidupkan terlebih dahulu.
Perasaan mencekam datang dari pintu sebelahnya. Mereka mendengar bunyi orang bersiul-siul dan suara gemericik air. Namun anehnya ventilasi tetap berwarna hitam. Itu berarti tidak ada orang. Setelah mencoba membuka pintu, ternyata pintu terkunci. Mereka bertiga mulai merasakan takut. Bulu kuduk mereka mulai berdiri.
“Pin-tu ter-kunci, lampu mati, suara siul, suara gemeri-cik...hiii” Dewi berkata terbata-bata.
Sesaat kemudian pintu terbuka pelan-pelan. Dari dalam ruang gelap muncul sesosok bayangan manusia dengan tubuh kurus. Rambutnya keriting acak-acakan.
Esoknya, mereka berempat menceritakan kisahnya kepada teman-temannya tentang kisah horor kamar mandi putri Pusat Kegiatan Mahasiswa  lantai tiga.
“Bagaimana, horor kan?” tanya susi kepada sahabat-sahabatnya.
“Iya horor Sus. Masa kamar mandi putri yang make cowok.” balas Ratna sebal.
Ya, begitulah ceritanya. Kurangnya disiplin mahasiswa membuahkan cerita horor di Pusat Kegiatan Mahasiswa di kampus tersebut.



Category:

rumpunsastra.com:
Rumpunsastra.com menyediakan informasi terkait dengan Bahasa dan Sastra Indonesia

0 comments