Pembelajaran Membaca Teks Drama di Sekolah

yogananta damar | 10/06/2016 | 0 comments

Pelaksanaan Pembelajaran Membaca Teks Drama di Kelas VII

Pelaksanaan pembelajaran pada hakikatnya merupakan perpaduan antara pemilihan bahan ajar yang merupakan aspek isi dan metode pembelajaran yang sengaja disesain untuk membantu peserta didik meraih kompetensi yang dibelajarkan (Nurgiyantoro, 2013:15). Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pembelajaran membaca teks drama pada kelas VIII semester I memiliki aspek isi yang harus dibelajarkan yaitu mampu memahami unsur intrinsik teks drama. Hal itu tercantum dalam “Standar Kompetensi 7. Memahami teks drama dan novel remaja”, dengan “Kompetensi Dasar 7.1. Mengidentifikasi unsur intrinsik teks drama”. 

Drama memiliki dua bentuk, yaitu drama yang berwujud teks tertulis dan drama yang dipentaskan. Teks drama merupakan semua teks yang menghadirkan dialog antarpembicara yang isinya menghadirkan suatu alur dan tiap tokoh dibiarkan berbicara sendiri secara langsung kepada pembaca tanpa perlu saling mengutip kata dari pembicara lain (Nurgiyantoro, 2014:345). Perbedaan drama yang berwujud teks dengan drama yang dipentaskan adalah bahwa dalam drama pentas telah terjadi penafsiran kedua, yaitu baik sutradara ataupun pemain harus terlebih dahulu menafsirkan teks tertulis dan kemudian menampilkannya dalam bentuk drama pentas (Nurgiyantoro, 2014:345). Hal itu juga dapat berarti bahwa pembelajaran membaca teks drama untuk memahami unsur-unsur intrinsiknya berbeda dengan pembelajaran menonton drama. 

Apa saja unsur-unsur intrinsik teks drama? Berikut ini adalah unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam teks drama:

1)      Plot atau Alur Cerita

Plot adalah urutan peristiwa yang diikuti sampai cerita berakhir (Nurgiyantoro, 2012:12). Penyajian alur dalam drama diwujudkan dalam urutan babak dan adegan. Babak ialah bagian terbesar dalam sebuah lakon. Plot juga dapat diibaratkan sebagai ranka cerita. Dalam drama plot biasannya merupakan susunan empat bagian: (1) Protasis/ permulaan, (2) Epitasio/ jalinan kejadian, (3) Catastasis/ puncak laku, (4) Catasthrope/ penutupan (Harymawan, 1988:26).
Dalam drama dikenal ada tiga jenis alur cerita. (1) Alur linier memiliki kejadian berurutan dari awal (eksposisi, komplikasi), tengah (konfliks dan klimaks) dan akhir (resolusi). (2) Alur mundur diawali dengan akhir cerita atau penyelesaian, baru kemudian dirunut peristiwanya mengapa hal itu terjadi. Sedangkan (3) alur episodik, ketika cerita berupa episode atau bagian-bagian peristiwa yang saling berhubungan (Suroso, 2015:14).

2)       Tema

Tema merupakan salah satu bagian terpenting dalam sebuah karya sastra. Meskipun menjadi bagian terpenting dalam karya sastra, tema bukanlah sesuatu yang diungkapkan secara langsung oleh pengarang. Stanton (2012:7-8) mengungkapkan bahwa wujud tema sangatlah beragam. Tema dapat berwujud satu fakta dari pengalaman kemanusiaan yang digambarkan atau dieksplorasi oleh cerita seperti keberanian, ilusi, dan masa tua. Bahkan, tema juga dapat berupa gambaran kepribadian dari salah satu tokoh. Tema adalah unsur yang membentuk kebersatuan pada cerita dan memberi makna dalam setiap peristiwa

3)      Penokohan

Istilah “tokoh” mengacu kepada orang atau pelaku cerita, sedangkan istilah “penokohan” memiliki arti yang lebih luas daripada “tokoh” karena ia sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita , bagaimana perwatakannya, dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca (Nurgiyantoro, 2012:166).
Tokoh dalam drama  dibagi menjadi dua jenis yaitu berdasarkan perananya terhadap jalan cerita dan berdasarkan perananya dalam lakon serta fungsinya.
Berdasarkan peranannya terhadap jalan cerita, terdapat tokoh: (1)  tokoh protagonis yaitu tokoh yang mendukung cerita. Biasanya ada satu atau dua figur tokoh protagonis utama yang dibantu oleh tokoh-tokoh lainnya yang ikut terlibat sebagai pendukung cerita, (2) tokoh antagonis yaitu tokoh penentang cerita. Biasanya ada seorang tokoh utama yang menentang cerita dan beberapa figur pembantu yang ikut menentang cerita, (3) tokoh tritagonis yaitu tokoh pembantu, baik untuk tokoh protagonis maupun tokohh antagonis (Waluyo, 2001: 16).
Berdasarkan peranannya dalam lakon serta fungsinya, maka terdapat tokoh: (1)  tokoh sentral yaitu tokoh-tokoh paling menentukan gerak lakon. Mereka merupakan proses pertukaran lakon, tokoh sentral adalah biang keladi tokoh pertikaian. (2)  Tokoh utama yaitu tokoh-tokoh pendukung atau penentang tokoh sentral dapat juga sebagai medium atau perantara tokoh sentral, (3) tokoh pembantu yaitu tokoh-tokoh yang memegang peranan  pelengkap atau tambahan dalam mata rangkai cerita (Waluyo, 2001: 17).

4)    Latar

Latar ialah lingkangan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita, semesta yang berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung. Latar dapat berwujud waktu-waktu tertentu (hari, bulan, tahun), cuaca, atau satu periode sejarah (Stanton, 2012:35).
Menurut Nurgiyantoro (2012), latar atau tempat kejadian sering disebut latar cerita. Pada umumnya, latar menyangkut tiga unsur, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan, latar tempat dapat berupa nama-nama tempat, inisial tertentu, ataupun lokasi tertentu meskipun tanpa diberi kejelasan nama tetapi dengan menyebut sifat-sifat umum dari tempat tersebut.
Latar waktu berhubungan dengan kapan terjadinya peristiwa-peristiwa itu diceritakan. Latar waktu juga dapat berupa tempat terjadinya peristiwa secara historis. Berbeda dengan latar tempat dan waktu, Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sosial tempat yang diceritakan. Latar ini dapat berupa adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup dan lain-lain.
Dalam naskah drama, penulis naskah ada yang menggambarkan setting secara detil namun juga dengan sederhana sehingga menimbulkan imajinasi pembaca (Suroso, 2015:15).

5)    Dialog

Dialog merupakan salah satu ciri khas naskah drama. Dialog mengandung kata kunci yang menggambarkan ciri dan keinginan tokoh. Panjang atau sedikitnya dialog setiap tokoh tergantung kepada banyak atau sedikitnya pemikiran yang akan disampaikan tokoh tersebut (Suroso, 2015:16)

6)    Petunjuk Lakuan/ Petunjuk Teknis

Teks Drama berbeda dengan teks fiksi dan puisi. Hal yang membedakan naskah drama dengan teks fiksi menurut Suroso (2015:18) adalah (1) terletak pada pemakaian petunjuk lakuan dan dialog; (2) dari segi penggambaran watak, watak tokoh dalam teks drama dideskripsikan oleh tindakan dan motivasi tokoh ketika berdialog dengan tokoh lain, (3) dari segi bahasa, teks drama memiliki bahasa yang cenderung lisan, seperti orang berbicara.

Bagaimana seharusnya pembelajaran membaca drama? Menurut Alder dan Charles (2011:272), drama adalah sebuah karya imajinasi. Untuk membacanya, pembaca harus bersikap aktif untuk menciptakan latar belakang, dunia tempat tokoh-tokoh itu hidup dan bergerak. Satu hal penting dalam membaca sebuah drama yaitu, kita tidak membaca sebuah karya yang lengkap. Drama yang lengkap hanya dipahami jika itu dilakonkan di atas panggung. Seperti sebuah musik yang harus didengar, drama tidak memiliki dimensi fisik jika hanya dibaca di dalam buku. Sang pembaca harus menyediakan dimensi itu. Cara menyediakannya adalah dengan berpura-pura melihatnya dilakonkan.



Category:

rumpunsastra.com:
Rumpunsastra.com menyediakan informasi terkait dengan Bahasa dan Sastra Indonesia

0 comments