Sinopsis Novel Canting

yogananta damar | 6/02/2015 | 0 comments

Canting

Pengarang  : Arswendo Atmowiloto
Penerbit      : Gramedia
Tahun          : 1968 (Cetakan IV)

Tugenem merupakan istri dari Raden Ngabehi Sestrokumoro, atau yang biasa dipanggil Pak Bei. Semenjak menjadi istri Pak Bei, Tuginem tidak lagi menjadi buruh batik. Pak bei sendiri merupakan priayi. Dengan menjadi istri priayi berarti Tuginem tidak lagi menjadi wong cilik. Nama Tuginem pun pupus menjadi Bu Bei.
Bagi tradisi keraton, tindakan Pak Bei mengawini Tuginem merupakan sebuah penyimpangan tradisi.
Pak Bei sadar bahwa hal yang dilakukannya tentu akan mendatangkan masalah di kemudian hari. Meskipun begitu, Pak Bei tetap merasa bahagia.
Dari perkawinanya dengan Tuginem, Pak Bei dikaruniai banyak anak. Anak pertama bernama Wahyu Dewabrata; anak kedua, Lintang Dewanti; anak ketiga, Bayu Dewasunu, kemudian Ismaya Dewakusuma, Wening Dewamurti dan yang terakhir Subandini Dewaputri Sestrokusuma.
Bagi Bu Bei, Pak Bei adalah sosok pelindung. Dalam perlindungannya akan mendatangkan kebaikan.
Untuk membantu sang suami, Bu Bei merasa perlu menghidupkan lagi usaha batik keluarga Sestrokusumo. Sebagai seorang istri yang berasal dari wong cilik, Bu Bei termasuk mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sebagai istri, ia berbakti sepenuhnya untuk kepentingan keluarga, sebagai pengusaha, ia gesit, tegas, dan berani.
Dengan cara didiknya, Bu Bei berhasil mewujudkan cita-cita anaknya. Semua anaknya mendapat pendidikan hingga sarjana. Mereka semua juga telah berkeluarga dan hidup bahagia. Hanya satu yang belum berkeluarga yaitu si bungsu. Sebenarnya si bungsu telah memiliki calon dan tinggal menetukan hari perkawinannya. Namun, melihat keadaan Bu Bei yang sudah renta, dan melihat usaha batik yang makin mundur. Ni si bungsu, memutuskan untuk mengurusi usaha batik ibunya.
Timbulah perselisihan di dalam keluarga itu. Tak berapa lama Bu Bei meninggal, namun perselisihan tidak berhenti. Ni dicurigai sebagai anak hasil hubungan gelap. Di antara anak-anak pun terjadi persaingan yang tidak sehat. Mereka kurang setuju Ni melanjutkan usaha batik keluarga Sestrokusumo.
Meskipun begitu, Ni tetap teguh hati. Ia merasa yakin mampu menghidupkan usaha batik canting yang dulu dirilis ibunya. Ia tidak takut bersaing dengan perusahaan perusahan besar.
Sayang, kenyataan berkata lain. Usaha batik canting tetap saja tenggelam. Akhirnya Ni sakit dan hampir meninggal. Dalam sakitnya, ia sadar akan suatu hal. Tentang bagaimana seharusnya ia mengembangkan batik canting. Bagaimana canting harus melebur dirinya dengan masyarakat.

Ni akhirnya berangsur sembuh. Ia menikah dengan Himawan tepat setahun meninggalnya Bu bei. Kakak-kakanya sudah tidak lagi bermusuhan. Mereka membantu mempromosikan batik pada turis hingga anak Ni lahir. Anak itu diberinama Canting Daryono sebagai rasa sukur sukacita terhadap batik canting.

Category:

rumpunsastra.com:
Rumpunsastra.com menyediakan informasi terkait dengan Bahasa dan Sastra Indonesia

0 comments