Sinopsis Novel Di Kaki Bukit Cibalak

yogananta damar | 6/02/2015 | 0 comments

Di Kaki Bukit Cibalak

Pengarang  : Ahmad Tohari
Penerbit      : Pustaka Jaya
Tahun          : 1986

Dalam waktu dekat penduduk Desa Tanggir yang berada di kaki Bukit Cibalak akan menyelenggarakan pemilihan kepala desa. Sebagaimana biasanya para calon kepala desa memulai intrik-intrinya. Ada yang secara sembunyai-sembunyi, ada juga yang terang-terangan.
Ada lima orang calon kepala desa, namun dari lima calon itu, hanya dua yang punya peluang menang pemilihan. Kedua orang itu adalah Pak Badi. Pak Badi adalah lulusan SMEP. Orang kedua adalah Pak Dirga.
Dari hasil perhitungan suara, Pak Dirga terpilih sebagai Kepada Desa Tanggir yang bari. Tentu saja hal itu membuat Pak Badi dan pengikutnya kecewa. Salah satu yang mengikuti pak Bardi adalah Pambudi. Ia adalah seorang pemuda 24 tahun yang bekerja mengurus lumbung koperasi.
Bagi Pambudi, kekecewaannya sangat beralasan. Kepala Desa yang baru tidak berbeda dengan kepala desa sebelumnya. Banyak kecurangannya dalam mengelola kas desa. Selain itu Pak Dirga juga bekerja sama dengan tengkulak sehingga sangat sulit bagi lumbung padi Desa memperoleh keuntungan. Akhirnya ia berhenti dan mencari pekerjaan lain.
Keputusannya tersebut salah satunya karena ketika itu ada seorang warga yang berniat meminjam padi. Namun ia ditolak kepala desa. Padahal yang akan meminjam tersebut adalah perempuan tua yang sangat memerlukan uang untuk berobat. Sikap kepala desa yang seperti itu membuat tekad Pambudi bulat. Ia segera mengundurkan diri.
Pambudi berniat menolong wanita tua tadi. Wanita itu bernama Mbok Ralem. Ia menderita kanker ganas. Tak kalah akal, Pambudi mendatangi kantor surat kabar Kalawarta yang berada di Yogya. Pambudi menemui pimpinan harian dan mengusulkan agar dibuka dompet amal guna pengobatan Mbok Ralem.
Tindakan tersebut membuat pemimpin Kalawarta tertarik. Namun, tindakannya itu justru membuatnya dibenci oleh kepala desa. Teror dan fitnah berdatangan kepada Pambudi. Dalang dari teror dan fitnah tersebut tak lain adalah kepala desa. Tak tahan dengan situasi tersebut, Pambudi pergi ke Yogya. Ia hendak bekerja sambil melanjutkan sekolahnya.
Dalam persiapan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, Pambudi bekerja sebagai pelayan toko milik Nyonya Wibawa atau Oei Eng Hwa. Pambudi merangkap pekerjaan sebagai pelayan toko, sekaligus pembantu. Karena pekerjaannya itu pula, Pambudi menjadi akrab dengan anak majikannya yang bernama Mulyani.
Suatu ketika, Pambudi ditawari bekerja di Harian Kalawarta. Usulnya mengenai dompet amal merupakan salah satu alasan Pambudi diterima di harian itu. Dengan diterimannya pambudi bekerja di Harian Kalawarta, ia harus meninggalkan pekerjaan sebagai pelayan toko.
Sekolah bekerja dan belajar berlangsung dengan baik. Hubungan dengan desa pun tetap berjalan. Sani, adalah salah satu gadis desa yang menarik hati Pambudi. Namun sayang gadis itu digaet Pak Dirga untuk dijadikan istri mudannya.
Pak Dirga akhirnya diberhentikan dari jabatan kepala desa. Ia terbukti banyak melakukan penyelewengan. Hal itu tak luput dari kerja keras Pambudi yang membongkar kecurangan kepala desannya.

Hubungan Mulyani dengan Pambudi tetap berlanjut dan akhirnya mereka mengakui perasaan masing-masing.

Category:

rumpunsastra.com:
Rumpunsastra.com menyediakan informasi terkait dengan Bahasa dan Sastra Indonesia

0 comments