Sosiologi Sastra

yogananta damar | 6/04/2015 | 0 comments

Sosiologi Sastra

Pengertian Sosiologi Sastra

Damono, via Wiyatmi (2013) mengatakan, studi sosiologi sastra sering didefinisikan sebagai pendekatan yang memahami dan menilai karya sastra dengan mempertimbangkan segi-segi kemayarakatan (sosial). Apabila dilihat dari namanya, sosiologi sastra terdiri dari kata sosiologi dan sastra. Itu berarti bahwa sosiologi sastra adalah suatu ilmu yang bersifat interdisipliner. 
Karya sastra sendiri merupakan sebuah dokumen sosial, Hal itu dikarenakan karya sastra memiliki unsur cerita/isi yang berkaitan dengan masalah sosial. Sastra juga mempunyai kemampuan untuk mencatat kenyataan sosiobudaya  suatu masyarakat pada masa tertentu. Baik sosiologi maupun sastra, keduanya memiliki kajian yang sama yaitu manusia dalam masyarakat.
Dalam paradigma studi sastra, sosiologi sastra dianggap sebagai sebuah pendekatan yang berkembang dari pendekatan mimetik. Damono via Wiyatmi (2013) mengungkapkan bahwa karya sastra tidak dapat begitu saja jatuh dari langit, pasti ada hubungan antara sastrawan, sastra dan masyarakat.

Wilayah Kajian Sosiologi Karya Sastra

Wilayah kajian sosiologi sastra meliputu isi karya sastra, tujuan, serta hal lain dalam karya sastra yang berkaitan dengan masalah sosial. Karya sastra yang memiliki isi yang berkaitan dengan masalah sosial pada zamannya sering dipandang sebagai salah satu dokumen sosial. Sebagai dokumen sosial, sastra dapat digunakan untuk menguraikan ikhtisar sejarah sosial. Kajian pada sosiologi sastra tidak melihat karya sastra secara keseluruhan. Kajian sosiologi sastra hanya tertarik kepada isi sastra, yaitu unsur-unsur yang berkaitan dengan sosio-budaya yang terdapat dalam karya sastra. 

Strukturalisme Genetik dalam Sosiologi Sastra

Strukturalisme genetik adalah salah satu tipe sosiologi sastra yang memahami karya sastra dari asal-usul genetiknya (genetik). Kajian ini berangkat dari struktur karya sastra yang dipahami dalam hubungannya dengan struktur masyarakat dan pandangan dunia yang melahirkannya.
Pandangan strukturalisme genetik mengenai pengarang, Strukturalisme genetik mengkaji karya sastra dalam hubungannya dengan pandangan dunia kelompok sosial pengarang. Ciri khas strukturalisme genetik adalah memahami dan mengkaji karya sastra berdasarkan aspek genetik atau asal usulnya, yaitu dalam hubungannya dengan pengarang dan pandangan sosial historis yang melatarbelakangi penciptaan karya sastra. 
Ada beberapa konsep yang dipahami dalam strukturalisme genetik, yaitu pengarang sebagai subjek transidividual atau subjek kolektif, pandangan dunia, fakta kemanusiaan, struktur karya, dialektika, dan pemahaman-penjelasan. Berikut penjelasannya menurut Wiyatmi (2013):

Pengarang sebagai subjek transindividual atau subjek kolektif

Pengarang tidak dilihat sebagai seorang individu yang menciptakan karya sastrra seorang diri. Pengarang dianggap sebagai subjek transindividual/subjek kolektif, pengarang bukan semata-mata kumpulan individu yang berdiri sendiri-sendiri, tetapi merupakan satu kesatuan, satu kolektivitas. Pengarang dilihat sebagai anggota kelompok sosial tertentu yang ada dalam masyarakat

Pandangan dunia dalam perspektif strukturalisme genetik 

Pandangan dunia adalah konsep yang menyeluruh dari gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi, dan perasaan yang menghubungkan secara bersama-sama anggota suatu kelompok sosial tertentu dan yang membedakannya dengan kelompok sosial yang lain. (Kesadaran kolektif)

Struktur Karya Sastra

Strukturalisme genetik, memandang karya sastra sebagai fakta sosial. Fakta sosial diartikan sebagai fakta (sesuatu hal) yang mempunyai peran dalam sejarah (Faruk, via Wiyatmi, 2013)
Dalam konsep strukturralisme genetik, struktur karya sastra bersifat tematik. Hal itu dikarenakan yang menjadi pusat perhatiannya adalah relasi antara tokoh dengan tokoh dan tokoh dengan objek yang ada di sekitarnya. 

Dialektika: Pemahaman-Penjelasan

Metode ini merupakan cara memahami karya sastra yang ditandai dengan pasangan konsep: keseluruhan-bagian dan pemahaman-penjelasan. Berikut ini adalah pelaksanaan metode dialektika: (1) peneliti membangun sebuah model yang dianggap memberikan tingkat probabilitas tertentu atas dasar bagian, (2) lakukan pengeceka terhadap model itu dengan membandingkan bagian dengan keseluruhan dengan cara menentukan sejauh mana setiap unit yang dianalisis tergabungkan dalam hipotetis yang menyeluruh. (3) menentukan daftar elemen dan hubungan-hubungan baru yang tidak dilengkapi dalam model semula. (5) menentukan frekuensi elemen-elemen dan hubungan yang diperlengkapinya dengan model yang sudah di cek itu (Goldman via Wiyatmi, 2013)

Untuk lebih jelasnya silahka baca: Wiyatmi. 2013. Sosiologi Sastra: Teori dan Kajian terhadap Sastra Indonesia. Yogyakarta: Kanwa Publisher,

Category:

rumpunsastra.com:
Rumpunsastra.com menyediakan informasi terkait dengan Bahasa dan Sastra Indonesia

0 comments